Secangkir Kopi dan Obrolan Tentang Tingkepan

Please wait 0 seconds...
Scroll Down and click on Go to Link for destination
Congrats! Link is Generated

Malam itu suasana perpustakaan kecil di sudut kampung terasa begitu hangat. Rak-rak buku berdiri rapi, aroma kertas bercampur dengan harum kopi hitam yang baru diseduh.

Dua orang unik bernama Syaidur dan Dewakhit duduk lesehan di dekat rak budaya Nusantara sambil membuka beberapa buku dan sesekali menyeruput kopi hangat.


“Ngopi malam di perpustakaan begini ternyata enak juga ya,” ujar Syaidur sambil tersenyum kecil.


“Iya, suasananya tenang. Jadi lebih nyaman buat ngobrol santai,” jawab Dewakhit sembari membalik halaman buku tentang tradisi Jawa.


Di luar, angin malam berhembus pelan. Suara jangkrik terdengar samar dari halaman belakang perpustakaan. Obrolan mereka pun mulai mengalir ke berbagai topik budaya dan kebiasaan masyarakat.


“Ngomong-ngomong soal budaya,” kata Syaidur, “aku kemarin dengar tetanggaku mengadakan acara tingkepan. Sebenarnya tingkepan itu apa sih?”


Dewakhit meletakkan cangkir kopinya lalu menjelaskan dengan santai.

“Tingkepan atau sering disebut tiga bulanan itu tradisi Jawa untuk mendoakan ibu hamil dan calon bayi. Biasanya dilakukan saat usia kandungan tujuh bulan untuk anak pertama. Tradisi ini sudah ada sejak lama dan masih dijaga sampai sekarang.”


“Oh jadi semacam bentuk rasa syukur dan doa ya?” tanya Syaidur penasaran.


“Betul,” jawab Dewakhit. “Biasanya ada doa bersama keluarga, siraman, lalu makanan tradisional seperti tumpeng dan jajanan pasar. Intinya bukan soal mewahnya acara, tapi tentang harapan baik untuk ibu dan bayinya.”

Syaidur mengangguk sambil menikmati kopi hitamnya.


“Menarik juga ya. Kadang tradisi seperti itu membuat hubungan keluarga dan tetangga jadi lebih dekat.”


“Iya,” kata Dewakhit. “Makanya aku suka membaca tentang budaya lokal. Banyak makna sederhana yang kadang mulai dilupakan.”


Obrolan malam semakin santai. Sesekali mereka tertawa kecil saat membahas pengalaman menghadiri acara adat di kampung masing-masing.

Perpustakaan anak yang biasanya sunyi malam itu terasa hidup oleh percakapan ringan penuh wawasan.


“Kalau menurutmu,” tanya Syaidur sambil bersandar di rak buku, “obrolan apa yang paling enak sambil ngopi malam?”


Dewakhit tersenyum.

“Menurutku obrolan yang ringan tapi menambah ilmu. Bisa soal tradisi daerah, pengalaman hidup, cerita masa kecil, atau mimpi-mimpi sederhana. Ngopi itu bukan cuma soal minuman, tapi tentang suasana dan kebersamaan.”


Syaidur tertawa kecil.

“Wah, cocok juga buat bahan nih.”


Malam semakin larut. Cangkir kopi mulai kosong, namun obrolan mereka belum habis. Di antara buku-buku dan suasana tenang perpustakaan, dua orang unik itu menyadari bahwa percakapan sederhana ternyata bisa membuka wawasan baru tentang budaya, tradisi, dan makna kebersamaan.

Karena terkadang, dari secangkir kopi dan obrolan santai, lahirlah cerita yang hangat untuk dikenang.

Iklan

sponsor

Posting Komentar

PESAN

💬 Komentar | Tanya

Memuat diskusi...

Subscribe

Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.