Bagi anak-anak, motor pustaka bukan sekadar tempat meminjam buku. Ia menjadi ruang bermain sekaligus ruang belajar. Buku-buku cerita bergambar menjadi favorit. Tokoh hewan, pahlawan kecil, hingga kisah keseharian yang lucu membuat mereka betah duduk berlama-lama membaca.
“Aku paling senang buku yang gambarnya banyak. Ceritanya lucu,” ujar salah satu anak sambil menunjuk buku dongeng bergambar yang baru saja ia baca. Menurutnya, membaca di motor pustaka terasa lebih menyenangkan karena bisa dilakukan bersama teman-teman.
Selain buku bergambar, cerita pendek dengan alur unik juga menjadi daya tarik tersendiri. Cerita yang singkat membuat anak tidak cepat lelah dan tetap antusias membuka halaman demi halaman. Tanpa disadari, kebiasaan ini perlahan membentuk kecintaan mereka pada buku.
Dari sudut pandang relawan, Motor Pustaka Jombang adalah gerakan kecil dengan dampak besar. Salah satu relawan mengungkapkan bahwa banyak anak yang awalnya belum lancar membaca, kini mulai percaya diri memegang buku dan mengeja kata demi kata.
“Kadang anak-anak awalnya cuma melihat. Tapi lama-lama mereka minta dibacakan, lalu mencoba membaca sendiri,” tutur relawan tersebut. Baginya, momen ketika anak meminta buku lanjutan atau bertanya tentang cerita adalah kepuasan tersendiri.
Relawan juga berusaha menciptakan suasana yang ramah dan santai. Tidak ada paksaan, tidak ada target. Anak-anak bebas memilih buku yang mereka suka. Pendekatan ini membuat membaca terasa menyenangkan, bukan sebagai kewajiban.
Keberadaan Motor Pustaka Jombang menjadi bukti bahwa literasi tidak selalu membutuhkan gedung besar. Dengan motor sederhana, rak buku, dan kepedulian relawan, budaya membaca bisa tumbuh dari lingkungan terdekat anak.
Hingga kini, Motor Pustaka Jombang terus melaju membawa cerita, imajinasi, dan harapan. Dari tangan kecil yang membuka buku pertama mereka, lahirlah mimpi-mimpi besar yang kelak akan tumbuh bersama kebiasaan membaca.
Iklan
sponsor
