Sebuah Jawaban di Balik Senyuman

Vespa Hijau dan Sebuah Jawaban di Balik Senyuman
Please wait 0 seconds...
Scroll Down and click on Go to Link for destination
Congrats! Link is Generated


Ada sesuatu tentang aroma oli samping dan bunyi mesin dua tak yang tidak bisa dibeli dengan uang. Bagi saya, memori itu berwarna hijau warna Vespa Sprint tua yang menjadi saksi bisu masa-masa paling berwarna dalam hidup: masa sekolah.

Baru-baru ini, saya bertemu kembali dengan kawan lama. Setelah bertukar kabar tentang pekerjaan dan keluarga, satu pertanyaan klasik hampir selalu muncul seperti sebuah tradisi wajib:

"Eh, bagaimana Vespamu yang hijau dulu? Masih ada, kan?"

Mendengar itu, saya hanya bisa memberikan senyuman tipis—senyuman yang menyimpan sedikit rasa sesal namun penuh dengan penerimaan. Saya menjawab pelan, "Sudah saya jual, pren. Surat-suratnya sudah 'mati' terlalu lama."

Kenangan yang Tak Ikut Terjual

Mendengar jawaban saya, kawan saya itu terdiam sejenak, lalu tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. "Sayang sekali," katanya. "Padahal itu ikon kita dulu. Ingat tidak, waktu kita naik bareng terus tiba-tiba mogok di tengah jalan gara-gara lupa cek bensin?"

Kami pun larut dalam tawa mengenang momen-momen itu. Di mata teman-teman saya, Vespa hijau itu bukan sekadar kendaraan. Ia adalah:

  • Teman  saat mengejar jam masuk sekolah agar tidak terlambat.

  • Saksi bisu saat kami harus bahu-membahu mendorongnya di bawah terik matahari karena businya bermasalah.

  • Identitas yang membuat kami merasa paling keren, meski asapnya terkadang membuat mata perih.

Alasan di Balik Keputusan

Menjual barang bersejarah memang tidak pernah mudah. Namun, bagi saya, membiarkan sebuah motor klasik "mati" tanpa surat-surat yang hidup terasa seperti membiarkan sebuah sejarah terbengkalai. Keputusan menjualnya saat itu adalah cara saya merelakan agar Vespa tersebut bisa dirawat oleh tangan lain yang mungkin punya lebih banyak waktu untuk menghidupkan kembali "napasnya" di jalanan.

Meski fisiknya sudah tidak lagi terparkir di garasi rumah, saya sadar satu hal: kenangan tidak pernah butuh surat-surat yang aktif untuk tetap hidup.

Vespa hijau itu mungkin sudah berpindah tangan, tapi momen saat kami tertawa sambil mendorongnya karena kehabisan bensin akan selalu menjadi milik kami. Sebuah memori yang tak akan pernah "mati" atau "off", tak peduli berapa lama waktu telah berlalu.


Apakah Anda ingin saya menambahkan bagian spesifik tentang rute sekolah atau tempat nongkrong favorit Anda dulu ke dalam cerita ini?

Iklan

sponsor

Posting Komentar

Subscribe

Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.