Baru-baru ini, saya bertemu kembali dengan kawan lama. Setelah bertukar kabar tentang pekerjaan dan keluarga, satu pertanyaan klasik hampir selalu muncul seperti sebuah tradisi wajib:
"Eh, bagaimana Vespamu yang hijau dulu? Masih ada, kan?"
Mendengar itu, saya hanya bisa memberikan senyuman tipis—senyuman yang menyimpan sedikit rasa sesal namun penuh dengan penerimaan. Saya menjawab pelan, "Sudah saya jual, pren. Surat-suratnya sudah 'mati' terlalu lama."
Kenangan yang Tak Ikut Terjual
Mendengar jawaban saya, kawan saya itu terdiam sejenak, lalu tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. "Sayang sekali," katanya. "Padahal itu ikon kita dulu. Ingat tidak, waktu kita naik bareng terus tiba-tiba mogok di tengah jalan gara-gara lupa cek bensin?"
Kami pun larut dalam tawa mengenang momen-momen itu. Di mata teman-teman saya, Vespa hijau itu bukan sekadar kendaraan. Ia adalah:
Teman saat mengejar jam masuk sekolah agar tidak terlambat.
Saksi bisu saat kami harus bahu-membahu mendorongnya di bawah terik matahari karena businya bermasalah.
Identitas yang membuat kami merasa paling keren, meski asapnya terkadang membuat mata perih.
Alasan di Balik Keputusan
Menjual barang bersejarah memang tidak pernah mudah. Namun, bagi saya, membiarkan sebuah motor klasik "mati" tanpa surat-surat yang hidup terasa seperti membiarkan sebuah sejarah terbengkalai. Keputusan menjualnya saat itu adalah cara saya merelakan agar Vespa tersebut bisa dirawat oleh tangan lain yang mungkin punya lebih banyak waktu untuk menghidupkan kembali "napasnya" di jalanan.
Meski fisiknya sudah tidak lagi terparkir di garasi rumah, saya sadar satu hal: kenangan tidak pernah butuh surat-surat yang aktif untuk tetap hidup.
Vespa hijau itu mungkin sudah berpindah tangan, tapi momen saat kami tertawa sambil mendorongnya karena kehabisan bensin akan selalu menjadi milik kami. Sebuah memori yang tak akan pernah "mati" atau "off", tak peduli berapa lama waktu telah berlalu.
Apakah Anda ingin saya menambahkan bagian spesifik tentang rute sekolah atau tempat nongkrong favorit Anda dulu ke dalam cerita ini?
Iklan
sponsor
