Dari Sepiring Nasi

Pelajaran dari Sepiring Nasi, Tempe, dan Perjalanan Mengenal Teknologi
Please wait 0 seconds...
Scroll Down and click on Go to Link for destination
Congrats! Link is Generated


Hidup tak selalu menyajikan apa yang kita inginkan, tapi ia selalu mengajarkan apa yang kita butuhkan. Mengenang masa lalu, saya tersenyum sendiri. Bukan karena getir, tetapi karena di sanalah saya menemukan makna syukur yang sesungguhnya.

Saya ingat betul masa-masa di mana menu makan saya hanya nasi dan tempe. Itu pun jika ada. Kadang, jika ada cabai, saya hanya menyantap nasi dengan cabai dan garam. Bukan karena saya sedang diet atau ingin hidup mewah ala backpacker. Itu adalah kenyataan pahit yang harus saya telan. Namun anehnya, yang terpatri dalam ingatan bukanlah rasa lapar, melainkan pelajaran berharga: menikmati makanan seadanya. Dari sepiring nasi dan tempe, saya belajar bahwa kenikmatan sejati bukan terletak pada apa yang ada di piring, tetapi pada kemampuan kita untuk masih bisa mengunyah dan menelan. Betapa nikmatnya bisa makan, sebuah berkah yang sering terlupa ketika perut sudah selalu kenyang.

Masa kecil dan remaja saya adalah tentang pergerakan. Sejak pukul 4 pagi, saat teman sebaya mungkin masih lelap dalam mimpi, saya telah menapaki jalan-jalan desa. Saya berjualan onde-onde keliling, jajanan khas Mojokerto yang gurih. Gerobak atau mungkin hanya sebuah keranjang besar menemani saya menyusuri desa tetangga. Selesai berjualan sekitar pukul 6 pagi, saya langsung bergegas mandi dan berangkat sekolah. Rutinitas ini saya jalani kurang lebih selama 4 tahun. Bukan untuk jadi kaya raya, tetapi untuk sekadar mendapat uang tambahan jajan, meringankan beban orang tua walau hanya sedikit.

Setelah berhenti berjualan, saya tak ingin diam. Sadar tak punya keterampilan khusus, saya memberanikan diri untuk ikut belajar pada tukang potong rambut sepulang sekolah. Di sana, saya tak hanya belajar cara memangkas rambut. Saya juga diajari cara memijat atau mengkramasi konsumen sebelum dan sesudah pencukuran. Ilmu sederhana ini menjadi bekal selama kurang lebih 2 tahun. Lumayan, bisa menghasilkan sesuatu dari tangan sendiri.

Namun, petualangan hidup tak boleh berhenti. Tekad untuk memperbaiki nasib membawa saya keluar kota, mengikuti teman bekerja di pabrik kayu. Setahun berlalu, saya bergeser ke kota lain untuk mencari pengalaman baru. Di kota baru inilah titik balik itu tiba. Saya memutuskan untuk mendaftar kuliah. Di sela-sela waktu kuliah, saya bekerja sebagai tenaga lepas (freelance) di sebuah sekolah sebagai teknisi komputer. Selama 3 tahun saya menggeluti dunia perbaikan hardware dan software di sekolah tersebut.

Kesempatan kemudian datang lagi. Ada tawaran dari sekolah lain dengan pendapatan yang lebih lumayan. Tanpa pikir panjang, saya menerimanya. Saya bertahan di sana selama 4 tahun. Meskipun pada akhirnya saya harus berhenti, saya tersadar bahwa selama bertahun-tahun saya tak hanya bekerja untuk mencari uang. Saya sedang menabung bekal.

Hari ini, jika saya melihat ke belakang, saya tidak melihat perjalanan yang sia-sia. Saya melihat seorang anak muda yang lapar akan ilmu dan pengalaman. Dari jualan onde-onde, saya belajar arti waktu dan disiplin. Dari memangkas rambut, saya belajar seni melayani dan ketelitian. Dari pabrik kayu, saya belajar kerasnya kerja fisik. Dan dari dunia teknologi serta komputer, saya belajar bahwa kita bisa beradaptasi dan belajar hal baru di usia berapa pun.

Sepiring nasi dengan tempe dan cabai dulu mengajarkan saya untuk bersyukur. Perjalanan panjang ini mengajarkan saya bahwa keterampilan adalah satu-satunya bekal yang tak akan pernah dicuri orang. Kini, dengan semua bekal yang terhimpun dari masa lalu, saya melangkah lebih mantap. Siap menghadapi apa pun, karena saya tahu, dari yang sederhana dan serba kekurangan, kita bisa belajar untuk menjadi manusia yang tangguh.

Iklan

sponsor

Posting Komentar

Subscribe

Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.