Perubahan pola pikir bukanlah otomatis. Ia adalah hasil dari keberanian untuk mempertanyakan keyakinan lama. Dan pertanyaan itu tidak muncul di ruang hampa. Ia lahir dari percakapan khususnya dengan orang-orang yang kita pilih untuk duduk bersama dalam lingkaran terdekat kita.
Circle Anda adalah katalis atau racun. Jika Anda bertanya kepada mereka yang hanya akan mengiyakan semua keluhan Anda, Anda akan tetap terjebak. Namun jika Anda bertanya kepada mereka yang berani memberikan cermin, maka pertanyaan Anda akan berubah menjadi pisau bedah.
Lihat perbedaannya? Pertanyaan yang sama, tapi pola pikir outputnya berbeda karena siapa yang menjawab. Maka memilih circle berarti memilih versi masa depan dari pertanyaan-pertanyaan yang akan menghantui sekaligus membebaskan Anda.
Lingkaran pertemanan adalah ruang persetujuan diam-diam atas pola pikir Anda. Jika Anda bertanya, "Hidup ini berat, ya?" di circle yang salah, mereka akan mengiyakan. Jika Anda bertanya di circle yang tepat, mereka akan balik bertanya, "Lalu apa yang akan kau lakukan hari ini?"
Mulailah mengubah perilaku dengan mengubah siapa yang Anda izinkan menjawab pertanyaan-pertanyaan terpenting dalam hidup Anda.
Cerita: Lelaki yang Berhenti Menyalahkan Hujan
Ali adalah tipe pria yang percaya bahwa nasibnya sial karena lahir di keluarga biasa. Setiap malam minggu, ia duduk di teras kontrakannya bersama tiga teman lamanya: Joko, Andre, dan Roni. Mereka memanggil grup WA mereka "The Underdog".
Sesuai namanya, obrolan mereka selalu berisi:
"Bossku anak orang, kita mah cuma kacang."
"Gausah gila kerja, toh naik jabatan juga buat orang dalam."
"Perubahan? Omong kosong. Yang ada cuma keberuntungan."
Ali merasa nyaman. Seperti selimut usang yang hangat meski kusam.
Suatu sore, adik perempuannya, Laras, baru pulang dari program pertukaran mahasiswa. Laras bercerita tentang temannya yang dulu putus kuliah, kini punya startup kecil-kecilan. Ali tertawa getir, "Itu karena dia punya modal orang tua."
Ali terdiam. Ia tak pernah mendapat pertanyaan seperti itu. Selama ini yang ia terima hanyalah pernyataan, bukan pertanyaan. Pernyataan: "Kita ini orang kecil." "Dunia nggak adil." "Percuma usaha."
Malam itu, untuk pertama kalinya, Ali tidak ikut nongkrong di teras. Ia mematikan notifikasi grup The Underdog.
Ia menghubungi Tio, mantan ketua organisasi kampus yang dulu ia kagumi, tapi perlahan ia tinggalkan karena merasa "tidak satu frekuensi lagi". Tio sekarang menjabat manajer di perusahaan logistik.
"Tio, gue mau tanya sesuatu yang jujur," kata Ali ragu.
"Tentu. Silakan."
"Menurut lo, kenapa gue selalu merasa usaha gue nggak pernah cukup?"
Tio tidak menjawab cepat. Ia menarik napas.
"Gue akan balik tanya, Ali. Siapa yang setiap hari lo dengarkan? Bukan sekadar dengar, tapi lo serap jadi kebenaran."
Ali mengeja satu per satu. Joko. Andre. Roni.
Tio tersenyum kecil. "Lo dikelilingi oleh orang-orang yang sudah pasrah. Mereka nggak jahat, tapi mereka membalsem lo dengan cerita bahwa perjuangan itu sia-sia. Pola pikir lo saat ini adalah jawaban kolektif atas pertanyaan, 'Apa yang pantas kita dapatkan?' Dan jawaban circle lo adalah: 'Tidak banyak.'"
Ali merasa dadanya sesak. Bukan marah, tapi tersadar.
Sejak malam itu, ia mempraktikkan satu disiplin baru: setiap pagi, ia menulis satu pertanyaan besar dan mengirimkannya ke seseorang di circle barunya. Circle yang ia pilih sendiri: Tio, Laras, dan seorang dosen pensiunan yang suka kopi pahit.
Contoh pertanyaan yang diajukan Ali di minggu pertama:
"Apa satu kebiasaan yang kalian ubah saat sadar pola pikir lama merugikan?"
"Kapan terakhir kalian takut, tapi tetap melangkah?"
Jawaban-jawaban yang ia terima tidak selalu manis. Ada kritik. Ada kegelisahan. Tapi semuanya memprovokasi pola pikirnya. Perlahan, Ali berhenti mengatakan "tidak mungkin". Ia mulai belajar digital marketing dari YouTube. Ia mengikuti pelatihan gratis. Ia melamar pekerjaan yang dulu ia anggap "hanya untuk orang berkipas".
Empat bulan kemudian, ia diterima sebagai asisten administrasi di sebuah yayasan sosial sekaligus menjalankan jasa pembuatan konten kecil-kecilan. Bukan kesuksesan besar, tapi sebuah pergeseran: dari lelaki yang menyalahkan hujan, menjadi lelaki yang belajar menanam di musim apa pun.
Suatu malam, Joko mengirim pesan ke grup The Underdog: "Ali, lo udah sombeng ya? Jarang nongkrong."
Ia meninggalkan grup itu selamanya. Bukan karena benci, tapi karena sadar: Anda tidak bisa berenang ke arah yang berbeda sambil terus berpijak di kapal yang tenggelam.
Iklan
sponsor
