Bersepeda Sendiri Tengah Terik yang Menyapa

Please wait 0 seconds...
Scroll Down and click on Go to Link for destination
Congrats! Link is Generated
Bersepeda Sendiri Tengah Terik yang Menyapa
Foto: Ilustrasi


Jam menunjukkan pukul setengah empat. Matahari masih enggan bergeser dari puncaknya, menyisakan panas yang menyengat di setiap sudut jalan. Tapi aku sudah memutuskan kayuh sepeda tua ini, walau hanya sendirian, walau hanya delapan kilometer.

Angin sore yang panas menyambut di pelataran rumah. Bukan angin sejuk yang kuharapkan, tapi semburan kering dari aspal yang masih menyimpan gerah sejak siang tadi. Helm kupasang, botol minum tergantung di stang, dan musik pelan mengalun dari ponsel di saku.

Kayuhan pertama: perlawanan pada panas

Tiga kilometer pertama terasa paling berat. Panas menampar langsung ke wajah, membuat keringat mulai membasahi punggung. Di beberapa tikungan, pohon-pohon rindang memberi jeda setetes nikmat di tengah terik. Aku melambat, menikmati bayang-bayang itu sejenak.

Sepeda ini sendirian di jalan. Sepi memang, tapi anehnya tidak terasa sendiri. Suara rantai yang berputar, detakan jantung yang makin kencang, dan napas yang teratur mereka jadi teman yang cukup setia.

Di kilometer kelima: kaki mulai terasa enteng

Entah karena badan mulai terbiasa atau panasnya mulai berkurang sedikit, kayuhan terasa lebih ringan. Panas masih terasa, tapi tak lagi menusuk. Mungkin beginilah cara tubuh berdamai menerima apa yang diberikan sore ini tanpa protes.

Di sisi jalan, sekelompok anak sedang bermain bola. Teriakan mereka nyaring, bercampur tawa. Aku melambat, tersenyum melihat energi mereka yang tak habis-habisnya. Sesekali, salah satu dari mereka melambai. Aku balas dengan bel sepeda kring! lalu melanjutkan perjalanan.

Kilometer akhir: pelukan hangat senja

Delapan kilometer ternyata pas. Tak terlalu melelahkan, tapi cukup membuat keringat mengucur dan pikiran ikut terkuras bersamanya. Di kilometer terakhir, langit mulai menguning. Panas berubah jadi hangat yang lain lebih lembut, hampir seperti pelukan.

Aku berhenti di pinggir jalan, memandangi langit yang perlahan beranjak jingga. Sepeda ini, keringat di dahi, debu di celana—semuanya terasa cukup. Sendirian? Tidak masalah. Jarak pendek? Tak perlu jauh untuk merasa bahwa sore ini, memilih bersepeda, adalah keputusan yang tepat.

Sampai di rumah, kulihat odometer: 8,2 kilometer. Kulepas helm, kurasakan angin sore yang akhirnya mulai membawa sejuk. Dan aku tersenyum.

Besok, mungkin aku akan kayuh rute yang sama. Atau mungkin lebih pendek. Atau lebih panjang. Tapi sore ini, delapan kilometer dengan setia menemani panas, sudah lebih dari cukup.

Iklan

sponsor

Posting Komentar

💬 Kolom Komentar

💬 Komentar | Tanya

Memuat komentar...

Subscribe

Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.