Duduk bersila di bangku kayu warung pinggir jalan. Di hadapan kami, dua mankuk es tape ketan hitam menyemburkan uap dingin manis legit dengan sedikit aroma fermentasi yang khas. Percakapan sederhana pun berlabuh di sini, di antara sendok yang mengaduk es dan tawa kecil yang hilang ditelan suara lalu lintas.
Es tape ini mengingatkan kami pada kebijaksanaan: ia tak lahir instan. Ada proses "fermentasi" waktu, kesabaran, dan perlakuan lembut agar manisnya terasa pas. Begitu pula dengan obrolan yang bermakna ia butuh ruang, niat, dan kehadiran.
Kami mulai bertukar cerita tentang hari yang dijalani. Di sinilah kami mengingat kembali seni mendengar. Kami sepakat, kebiasaan modern memotong pembicaraan hanya lahir dari ego yang ingin terlihat pintar. Padahal, seperti menikmati tape jika dikunyah terburu-buru, rasanya hilang. Kami saling berlatih mengucapkan, "Ceritakan lebih lanjut," sebagai undangan agar cerita lawan bicara mengalir tanpa rasa takut dihakimi.
Di sela-sela es mencair, kami juga merasakan kekuatan hening. Ada jeda panjang saat kami menatap serbuk ketan hitam di dasar gelas. Kami menyadari, diam bukan kekosongan; ia adalah ruang sakral untuk menyerap makna. Sering kali, ucapan paling berharga lahir tepat setelah kita memberi waktu bagi kata-kata untuk meresap ke dalam dada.
Pertanyaan kami pun berubah. Tidak ada lagi "Kenapa kamu begitu?" yang terkesan menyudutkan. Kami mencoba menggantinya dengan, "Apa yang membuatmu merasakan itu?" atau "Bagaimana kau memandang situasi ini?". Ajaib, pertanyaan eksploratif ini membuka cakrawala baru kami belajar bahwa setiap orang memiliki dunianya sendiri, sama seperti setiap butir ketan punya tekstur yang berbeda.
Kami juga saling mengingatkan untuk tak selalu menjadi "guru". Dalam setiap obrolan, kami berupaya merendahkan hati menjadi murid. Pedagang di warung ini, misalnya, tanpa sengaja mengajarkan tentang ketekunan membuka lapak sejak subuh, meracik tape dengan cinta. Di situlah kami sadar: bijak berarti bersedia belajar dari siapa pun, di mana pun.
Saat mangkuk mulai kosong, kami merenung sejenak. Obrolan hari ini bukan soal mencari solusi atas masalah, melainkan tentang bertemu dan mengakui bahwa kita sama-sama sedang belajar. Kebijaksanaan bukan tujuan, melainkan akumulasi dari setiap sapaan hangat yang kita bagi.
Sebagai penutup, coba lepas gawai sesekali. Duduklah di warung kecil. Mulailah dengan, "Apa yang membuat harimu berarti?". Biarkan telinga menjadi pintu, hati menjadi wadah, dan pikiran menjadi kawan. Karena pada akhirnya, kedamaian sering bersembunyi di balik kesederhanaan seperti manisnya tape ketan hitam yang baru terasa ketika kita berhenti sejenak dan benar-benar menikmatinya.
Selamat merayakan makna, dalam setiap helaian napas, untaian kata, dan seruput es tape yang menemani.
Iklan
sponsor