Ada satu kebenaran besar yang baru benar-benar saya pahami setelah menjadi orang tua: waktu tidak pernah benar-benar berjalan pelan.
Dulu, hidup ini dipenuhi oleh angka-angka kecil yang sangat saya hafal di luar kepala. Saya tahu persis ukuran baju mereka yang masih mungil, ukuran sepatu yang berganti hampir setiap beberapa bulan sekali, hingga daftar makanan yang bisa membuat mereka tenang atau tersenyum.
Dulu, hal-hal kecil seperti mengancingkan kemeja mereka, mengikat tali sepatu, atau sekadar membersihkan sisa makanan di pipi mereka terasa seperti rutinitas biasa. Terkadang, di hari-hari yang melelahkan, rutinitas itu terasa menjemukan.
Namun, hari ini saya tersentak oleh sebuah kesadaran yang datang tanpa ketukan pintu.
Saya menyadari bahwa anak-anak terus bertumbuh, bahkan ketika saya sedang tidak melihatnya. Mereka tumbuh di sela-sela kesibukan saya. Mereka bertambah tinggi di balik tumpukan pekerjaan saya. Dan mereka menjadi lebih mandiri, bahkan saat saya tidak sedang berada di samping mereka untuk menyaksikannya setiap hari.
Dan mungkin, itulah yang kadang membuat hati ini terasa sesak.
Rasa sesak ini bukan muncul karena mereka menjauh atau karena mereka tidak lagi membutuhkan kita dengan cara yang sama seperti dulu. Rasa sesak ini lahir karena sebuah kepasrahan pada kenyataan bahwa waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.
Waktu tidak peduli seberapa ingin kita menahan momen-momen manis itu sedikit lebih lama.
Pada akhirnya, sebuah kesadaran paling jujur dari setiap orang tua adalah menerima sebuah kepastian: anak-anak memang harus tumbuh.
Tugas kita sebagai orang tua bukanlah untuk menahan langkah mereka agar tetap menjadi bayi kecil kita selamanya.
Tugas terberat kita, yang harus kita pelajari setiap hari dengan lapang dada, adalah belajar menerima bahwa kita tidak akan bisa menemani setiap langkah kaki mereka.
Kita harus belajar melepaskan genggaman tangan itu perlahan-lahan, membiarkan mereka berjalan di atas kaki mereka sendiri, menghadapi dunia yang sesungguhnya.
Menjadi orang tua adalah tentang belajar mencintai dalam kehilangan yang perlahan kehilangan masa kecil mereka, untuk menyambut masa depan mereka.
Dan di balik sesak itu, selalu ada doa yang mengalir, berharap bahwa fondasi kecil yang dulu kita bangun di sela-sela ukuran baju dan sepatu mereka, cukup kuat untuk menemani ke mana pun waktu membawa mereka pergi.
Iklan
sponsor