Matahari pagi belum sepenuhnya naik, namun semangat warga Desa Keras sudah membara. Hari itu, Sabtu (8/8), ratusan warga dari berbagai dusun seperti Paritan, Kawur, Buntel, Cikar, Mejono, hingga Tegalan, berbaur menjadi satu, memadati rute pawai budaya yang berakhir di pepunden Sentono, Dusun Keras Tegalan .
Tujuan mereka sama: menyaksikan dan meramaikan puncak acara Sedekah Desa, sebuah tradisi tahunan yang menjadi wujud syukur atas karunia hasil bumi. Ia adalah cermin kental budaya agraris, lebur dalam bingkai religius, dan dimahkotai gelak tawa bersama di momen paling ditunggu: rebutan gunungan.
Tahun ini, warga Desa Keras tampil beda. Setiap dusun tak hanya menyiapkan gunungan, tetapi berlomba menampilkan kreasinya. Bukan lagi tumpukan sederhana, gunungan-gunungan ini dihiasi dan disusun dengan nilai seni tinggi, memadukan ragam komoditas lokal yang memikat mata. Sayuran segar, buah-buahan, dan palawija ditata rapi membentuk semacam mahakarya, simbol dari kesuburan dan kekayaan alam desa .
Salah seorang tokoh masyarakat mengungkapkan, kekreatifan ini menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya sekaligus mengenalkan kekayaan lokal kepada generasi muda. "Ini bentuk terima kasih kami kepada para leluhur Desa Keras," ujar Sukardi, Kepala Desa Keras, dalam sambutannya . Kreativitas serupa juga terlihat di berbagai daerah di Jawa, di mana hasil bumi disulap menjadi bentuk-bentuk artistik seperti naga, wayang, atau menara, menunjukkan bahwa tradisi dan inovasi bisa berjalan beriringan .
Antusiasme yang Mencekam: Rebutan Berkah
Setelah diarak dari garis start di Dusun Paritan mengelilingi rute sepanjang beberapa dusun, puncak acara tiba di pepunden Sentono. Prosesi doa dan tabur bunga sebagai penghormatan kepada leluhur digelar khusyuk . Namun, suasana hening itu berubah drastis begitu gunungan-gunungan mulai diturunkan.
Teriakan dan gelak tawa pecah. Warga dari berbagai usia, dari anak-anak hingga orang tua, berdesakan, bersaing dengan penuh semangat untuk mendapatkan "berkah" dari isi gunungan. Dalam hitungan menit, tumpukan hasil bumi yang indah itu ludes diserbu ribuan pasang tangan .
Momen ini bukan sekadar keramaian, melainkan simbol mendalam. Dalam tradisi Jawa, memperebutkan isi gunungan, atau yang dikenal dengan istilah ngalap berkah, adalah simbol bahwa rezeki dari Tuhan harus diikhtiari, diraih dengan usaha, bukan hanya dengan menunggu . Bagi warga, sehelai kacang panjang atau segenggam beras dari gunungan dipercaya membawa keberkahan, sehingga momen ini pun dinanti-nanti dengan antusiasme luar biasa .
Simbol Keguyuban dan Syukur
Kegiatan Sedekah Desa keras di Sentono ini telah menjadi agenda tahunan yang dinanti, bahkan sempat diagendakan agar rutin digelar setiap tahun . Lebih dari sekadar ritual, acara ini menjadi kekuatan pemersatu warga dari berbagai dusun. Pawai budaya yang menampilkan berbagai kostum dan kesenian tradisional menjadi hiburan yang dinikmati bersama, mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Acara ini menjadi cerminan masyarakat yang guyub, rukun, dan menjunjung tinggi nilai-nilai leluhur. Di tengah hiruk-pikuk modernitas, tradisi seperti ini menjadi oase yang mengingatkan akan pentingnya bersyukur, berbagi, dan menjaga kebersamaan. Saat gelak tawa dan riuhnya rebutan gunungan mereda, yang tersisa adalah rasa syukur yang mendalam dan harapan untuk kemakmuran Desa Keras di masa mendatang.
Iklan
sponsor