Meski hanya dikelola seorang diri, pengelolanya menikmati setiap momen. Baginya, Minggu pagi adalah waktu paling hidup. Peziarah datang tak hanya untuk berdoa, tapi juga singgah membaca sambil menikmati kopi dari warung tenda di sekitar. Suasana pagi yang sejuk, pepohonan rindang, dan aroma kopi bercampur bau kertas menciptakan harmoni yang jarang ditemukan di tempat lain. Ada yang datang sendiri, ada pula pasangan muda yang menjadikan lapak ini sebagai "kencan literasi."
Pengelola mengaku tak pernah bosan meski sendirian. "Saya ditemani buku, kopi, dan senyum orang yang lewat. Kadang hanya obrolan singkat tentang isi buku, itu sudah cukup membahagiakan." Ia juga bercerita, banyak peziarah yang setelah membaca justru kembali minggu depan dengan membawa donasi buku bekas. "Itu hadiah Minggu pagi terbaik," ujarnya.
Lapak ini tak memungut biaya. Siapa saja boleh membaca, duduk santai, dan mengembalikan buku setelah selesai. Tak ada aturan ketat, yang penting adalah kebiasaan membaca yang terbangun. Gerakan kecil ini selaras dengan semangat literasi yang mulai tumbuh di Jombang, namun "Motor Pustaka" menawarkan pendekatan yang lebih personal dan intim.
Bagi pengelolanya, lapak ini adalah simbol keberanian memulai sesuatu meski hanya sendiri. "Orang sering menunggu ramai atau modal besar untuk bergerak. Padahal dengan niat kecil dan konsistensi, dampaknya besar," katanya. Menjelang jam 8, ia mulai merapikan buku, mengecek koleksi, dan bersiap untuk Minggu depan.
Pesan terakhirnya, "Minggu pagi berikutnya, datanglah. Bawa buku bekas atau bawa saja diri kalian. Duduk, baca, ngopi, atau sekadar diam. Karena kebahagiaan sering ditemukan pada hal-hal kecil yang dilakukan dengan ikhlas."
"Motor Pustaka" Minggu pagi, jam 6–8, di parkiran Makam Gus Dur, Jombang. Datang sendiri atau bawa teman. Yang pasti, bawa hati yang ingin tenang.
Iklan
sponsor