Sore itu, matahari masih malu-malu buat pulang. Sinarnya yang keemasan jatuh menerpa teras rumah belajar dan bermain "Lentera Ilmu". Suasananya hangat, tapi tidak sepanas drama kehidupan. Hehe.
Aku baru saja mau duduk santai, ngopi dikit, eh... ternyata di teras sudah ada "pertempuran" sengit yang tidak melibatkan senjata, melainkan dadu dan bidak plastik. Ya, benar sekali. Anak-anak didikku, tiga orang jagoan kecil, sudah asik menggelar papan ular tangga. Entah kapan mereka menyiapkannya, aku saja tidak tahu.
Awalnya aku cuma lewat, mau ngecek keadaan. Tapi begitu lihat papan ular tangga terhampar di lantai teras, kakiku rasanya berat untuk melangkah pergi. Akhirnya aku putuskan untuk jadi audience alias penonton. Dengan modal berdiri di dekat pintu, bersandar manja sambil sesekali menyeruput minuman, aku mulai menikmati "pertunjukan" gratis itu.
Tiga anak itu benar-benar totalitas. Ada yang mukanya tegang saat dapat angka sial, ada yang loncat-loncat kegirangan saat berhasil naik tangga ke kotak yang lebih tinggi. Suara dadu yang dilempar ke papan kayu, kletek... kletek... kletek..., jadi musik latar yang khas. Sesekali mereka berdebat kecil, "Eh, kamu curang! Dadunya jatuh!", atau "Yaaah, aku kena mulut ular lagi!". Aku cuma senyum-senyum sendiri di pojok.
Yang paling lucu, mereka benar-benar tidak sadar kalau ada aku di sana. Saking asiknya bermain, dunia seakan milik mereka bertiga. Aku yang berdiri di samping, seperti patung, tidak dianggap. Bahkan ketika aku pura-pura batuk, tidak ada yang menoleh. Gagal total usaha mencari perhatian. Wkwkwk.
Momen ini bikin aku sadar sesuatu. Kadang, kebahagiaan itu sederhana banget. Tidak perlu gadget mahal atau permainan online yang ribet. Cukup ular tangga, teman, dan waktu sore yang santai. Aku sebagai orang dewasa, yang katanya lebih "paham" banyak hal, justru belajar dari mereka tentang arti fokus dan fun.
Mereka tidak peduli menang atau kalah, yang penting bisa terus melempar dadu dan berharap kali ini tidak kena ular. Lucu, ya? Padahal di kehidupan nyata, kita sering banget ketemu "ular" yang bikin kita turun jauh ke bawah. Tapi anak-anak ini mengajarkan, kalau kena ular, ya sudah. Lempar lagi dadunya. Siapa tahu di lemparan berikutnya, kita dapat tangga yang membawa kita melesat ke atas.
Sampai akhirnya permainan usai. Salah satu dari mereka menang, yang lain mengaku kalah dengan sportif (walaupun ada sedikit cemberut). Baru deh, setelah semua selesai, mereka menoleh ke samping dan kaget setengah mati.
"Loh, Kakak udah di sini dari kapan?!" tanya mereka kompak.
Aku cuma ketawa. "Dari sebelum kalian jadi juara ular tangga, Dek."
Momen sederhana di teras Lentera Ilmu sore itu jadi salah satu highlight minggu ini. Jadi penonton ternyata tidak selalu membosankan. Apalagi kalau yang ditonton adalah tiga anak kecil yang sedang asik membangun dunianya sendiri di atas papan ular tangga. Kadang, kita cuma perlu diam dan melihat, untuk menemukan kebahagiaan yang sering kita lewatkan.
Sampai jumpa di permainan ular tangga berikutnya, ya!
Aku siap jadi penonton setia lagi. Asal jangan lupa siapkan camilan buat penontonnya aja. Hehehe.
Iklan
sponsor