Ada pepatah Jawa yang bunyinya:
“Bedo konco bedo cerito, bedo worno sing penging duwe konco,Bedo pendapat awake dewe sé duwe sahabat,Bedo jalur sing penting awake dewe se sedulur,Intiné pas seduluran ikuSing penting ojo duwe sifat gatheti koyok sengkuni.”
Artinya kurang lebih: beda kawan beda cerita, beda warna/ragam yang punya kawan, beda pendapat kita sendiri yang punya sahabat, beda jalur yang penting kita sendiri yang bersaudara. Intinya, kalau berteman, jangan punya sifat licik seperti Sengkuni.
Nah, ini ngena banget. Aku sendiri punya teman yang beda-beda. Ada teman yang cocok diajak bahas film, ada yang cocok diajak curhat, ada yang cocok diajak cari makan, dan ada yang cocok diajak... diam saja sambil main HP. Beda cerita, beda frekuensi. Nggak semua harus sama.
Beda warna juga wajar. Ada yang suka kopi pahit, ada yang suka matcha, ada yang suka es teh di warung. Ada yang kalau diajak jalan langsung semangat, ada yang kalau disuruh keluar rumah mikirnya kayak mau berangkat haji. Tapi ya tetap teman.
Yang paling sering bikin ribut itu beda pendapat. Apalagi kalau lagi bahas pilihan politik, tim sepak bola, atau tempat makan. Kadang sahabat sendiri bisa beda pendapat. Nggak apa-apa. Yang penting jangan karena beda pendapat terus saling menghasut, apalagi sampai bikin grup baru tanpa satu orang. Itu bukan beda pendapat, itu sudah masuk kategori operasi Sengkuni.
Sengkuni dalam wayang itu tokoh yang pintar, cerdik, tapi sayangnya licik. Dia suka adu domba, menghasut, dan bikin orang bertengkar demi kepentingan sendiri. Kalau di zaman sekarang, mungkin dia orang yang hobinya screenshot chat lalu disebar, atau bikin gosip biar grup pecah. Nggak lucu, kan?
Makanya, pesan “ojo duwe sifat gatheti koyok Sengkuni” itu penting banget. Dalam berteman, perbedaan itu normal. Beda jalur juga normal. Ada yang jalannya lurus, ada yang berkelok, ada yang muter-muter dulu. Yang penting kita tetap menganggap satu sama lain sebagai sedulur, saudara, bukan lawan.
Jadi, punya banyak teman itu bagus. Beda cerita, beda warna, beda pendapat, beda jalur, itu bumbu. Tapi jangan sampai kita jadi Sengkuni. Bumbu boleh beda, yang penting bukan racun.
Kesimpulannya: bertemanlah dengan tulus. Kalau ada perbedaan, sikapi dengan kepala dingin, hati hangat, dan kuota internet yang cukup untuk tidak ikut drama. Yang penting jangan licik, jangan adu domba, jangan jadi Sengkuni versi grup WA.
Iklan
sponsor