Hidup di Zaman yang Berbeda

Nak, Kamu Bukan Aku (Dan Itu Hal Terbaik yang Pernah Terjadi)
Please wait 0 seconds...
Scroll Down and click on Go to Link for destination
Congrats! Link is Generated
Gambar : ilustrasi

Ada satu momen di mana saya sadar kalau saya ini... bukan pusat alam semesta anak saya.

Waktu itu anak saya, si kecil yang dulu suka banget nonton video dinosaurus, tiba-tiba bilang, "Yah, aku mau belajar coding."

Saya, yang besar di era di mana "coding" itu artinya ngoding mie instan, cuma bisa manggut-manggut sambil dalam hati bertanya: sejak kapan anak SD bisa ngomong soal coding?

Dan di situ saya sadar. Anak saya bukan mini-me. Dia bukan versi remastered dari saya. Dia manusia baru, dengan otak baru, zaman baru, dan ini yang bikin saya agak kaget selera yang sama sekali berbeda dari selera saya.

Zaman Saya vs Zaman Dia: Beda Planet

Dulu, hiburan saya adalah nunggu film di TV sambil ngupil. Kalau mau lagu, harus beli kaset, putar pakai pensil kalau kusut. Salah satu skill hidup saya adalah bisa membalik kaset pakai ujung pulpen dalam waktu 3 detik.

Anak saya? Dia bisa nonton film Korea sambil main game, sambil video call temannya, sambil bilang "Yah, internetnya lemot" padahal saya rasa kecepatannya sudah cukup untuk mengirim roket ke Mars.

Saya tumbuh dengan filosofi "yang penting bisa". Dia tumbuh dengan filosofi "kalau bisa, kenapa cuma bisa?"

Dan itu bukan salah saya. Bukan salah dia. Itu cuma... zaman yang beda.

Jangan Jadikan Dia Aku (Ini Serius)

Ada godaan besar untuk bilang, "Dulu ayahmu begini, lho" atau "Kenapa sih kamu nggak suka bola kayak ayah?"

Tapi setiap kali godaan itu muncul, saya ingat satu hal: kalau saya memaksa dia jadi saya, dunia cuma akan dapat satu versi saya yang lebih muda dan lebih capek. Padahal dunia sudah punya saya. Dunia butuh dia yang berbeda.

Anak saya mungkin nggak suka bola. Dia suka menggambar komik. Komiknya jelek, jujur. Tapi menurut dia keren. Dan menurut dia, itu yang penting.

Saya pernah coba "membimbing" dengan gaya saya sendiri. Hasilnya? Dia bosan, saya frustrasi, dan kami berdua akhirnya nonton TV sambil diam-diaman. Pelajaran mahal.

Sekarang saya belajar duduk di sampingnya, bukan di depannya. Saya tanya, bukan menghakimi. Saya coba mengerti, bukan membandingkan.

Kadang saya nggak paham apa yang dia omongin. Tapi saya pura-pura paham, dan itu sudah setengah jalan menuju jadi ayah yang layak.

Hidup di Zaman yang Berbeda: Misi yang Berbeda

Saya hidup di zaman di mana cita-cita populer adalah "jadi orang sukses". Dia hidup di zaman di mana kata "sukses" saja sudah bercabang jadi 47 definisi.

Saya dulu takut nggak punya pekerjaan tetap. Dia takut nggak punya passion. Dua ketakutan yang sama-sama valid, tapi cara mengatasinya beda total.

Tugas saya bukan menyiapkan dia untuk dunia saya. Dunia saya sudah lama tutup. Tugas saya adalah menyiapkan dia untuk dunianya dunia yang bahkan saya nggak tahu bentuknya nanti seperti apa.

Dan untuk itu, saya cuma butuh dua hal: sabar, dan kesediaan untuk nggak selalu benar.

Pesan untuk Ayah-Ayah di Luar Sana

Kalau anakmu nggak suka hal yang kamu suka, jangan sedih. Itu artinya dia punya kepribadian. Bagus.

Kalau anakmu pilih jalan yang kamu nggak paham, jangan panik. Tanyakan, pelajari, temani. Bukan dilawan.

Kalau anakmu bilang "Ayah nggak ngerti aku", jangan balas "Ayah ngerti". Buktikan dengan duduk dan mendengar.

Anak kita bukan kita. Mereka adalah tamu dari masa depan yang mampir ke rumah kita untuk sebentar. Tugas kita bukan mencetak mereka jadi replika kita, tapi memastikan mereka siap pulang ke zaman mereka sendiri.

Jadi, nak, kamu bukan aku. Kamu lebih baik dari aku. Dan itu bukan kegagalan saya. Itu justru warisan paling jujur yang bisa saya berikan.

Iklan

sponsor

Posting Komentar

💬 Kolom Komentar

Silakan masuk menggunakan akun Google Anda.

Memuat komentar...

Subscribe

Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.