Kalau ada yang bilang "mimpi itu harus besar", kami punya cerita sedikit berbeda. Mimpi kami dulu cuma satu: punya buku anak yang cukup buat dibaca anak-anak di kampung. Ukurannya? Ya sekitar 50 buku. Itu pun kami hitung berkali-kali, siapa tahu jumlahnya bertambah gara-gara salah hitung. Ternyata tidak. Tetap 50.
Tahun 2010, kami berdua memulai perjalanan ini dengan modal nekad, semangat, dan tentu saja... rak buku yang masih agak goyang. Namanya juga usaha awal, raknya saja belum kokoh, apalagi kami. Tapi justru dari situ semuanya dimulai.
Awalnya Cuma "Ruang Baca Kecil", Sekarang Jadi Rumah Kedua
Dulu, adik-adik yang datang mungkin cuma iseng. "Ada buku baru, kak?" tanya mereka sambil matanya sudah menjelajah rak. Ada yang benar-benar duduk manis membaca, ada juga yang... ya namanya anak-anak, kadang bukunya dibuka, tapi matanya lihat ke arah lain. Namanya juga proses belajar, kan?
Tapi pelan-pelan, tempat ini berubah. Bukan cuma jadi tempat baca, tapi jadi semacam "markas" buat adik-adik. Ada yang datang untuk membaca, ada yang sekaligus ikut belajar bersama. Kadang kami juga ikut belajar dari mereka, misalnya belajar sabar saat mereka rebutan buku cerita yang sama.
Sekarang, di tahun 2026 ini, koleksi kami sudah jauh berbeda dari 50 buku pertama itu. Sudah banyak buku yang tersusun rapi, meski kadang tetap saja ada yang bertanya, "Buku yang kemarin ke mana, kak?" Padahal jelas-jelas masih ada di rak, cuma posisinya berpindah karena... ya, adik-adik.
Namanya Sekarang: Taman Bacaan Masyarakat Lentera Ilmu Jombang
Perjalanan panjang ini akhirnya membawa kami pada satu nama yang kami banggakan: Taman Bacaan Masyarakat Lentera Ilmu Jombang. Bukan nama yang muncul dalam semalam, tentu saja. Ada diskusi, ada obrolan panjang, dan ada beberapa kali ganti nama di kepala kami sebelum akhirnya mantap dengan yang satu ini.
Dari yang awalnya cuma ruang baca sederhana, sekarang tempat ini jadi ruang yang nyaman buat adik-adik. Ada yang datang cuma buat baca, duduk santai, atau sekadar mencari angin. Ada juga yang ikut belajar bersama di sini. Pokoknya, siapa pun yang datang, kami usahakan pulang dengan sesuatu entah itu ilmu, cerita, atau minimal senyum.
Media Publikasi Kami? Masih Setia Sampai Sekarang
Zaman berubah, tapi kami tetap berusaha ikut arus. Kalau dulu informasi cuma dari mulut ke mulut ("kak, besok buka nggak?"), sekarang kami sudah punya beberapa kanal publikasi yang bisa teman-teman ikuti:
· Instagram/Facebook: @rbblenterailmu
· Blog: https://rbblenterailmu.blogspot.com
· Blog satunya lagi: tbmlenterailmujombang.blogspot.com
Semua platform ini jadi media publikasi kami sampai sekarang. Kadang isinya kegiatan, kadang cerita anak-anak, kadang juga curhatan ringan soal buku yang hilang entah ke mana. Tapi ya, itulah warna-warni taman bacaan.
Pesan Buat Teman-Teman
Kalau ada yang bertanya, "Apa sih susahnya bikin taman bacaan?" Jawabannya: banyak. Mulai dari buku yang hilang, rak yang rusak, sampai adik-adik yang datang cuma buat main petak umpet di antara rak. Tapi kalau ditanya, "Apa yang bikin bertahan sampai sekarang?" Jawabannya juga sederhana: adik-adik itu sendiri.
Mereka yang datang dengan mata berbinar saat menemukan buku baru, mereka yang bertanya dengan polos, "kak, boleh pinjam nggak?" itu semua yang bikin kami terus jalan. Dari 50 buku di tahun 2010, sampai sekarang di tahun 2026, perjalanan ini masih panjang. Dan kami senang bisa berbagi ceritanya lewat tulisan ini.
Sampai jumpa di taman bacaan! Kalau datang, jangan lupa bilang "halo" dan tolong jangan bawa buku pulang tanpa bilang, ya. Kami tahu kok.
Iklan
sponsor