Jam 6 pagi, Ila berangkat kerja. Motor kami butut tua. Kalau dinyalakan, bunyinya seperti sedang protes: “Muki... kapan ganti aku?” Perjalanan 45 sampai 60 menit sekali jalan. Pulangnya sama. Belum kalau macet. Jadi kalau ada yang bilang hidup itu perjalanan, Ila mungkin sudah hafal setiap lubang di jalan.
Aku di rumah bukan suami yang bisa bangga bilang, “Saya tulang punggung keluarga.” Tulang punggungnya jelas Ila. Aku ini mungkin tulang kecil yang suka lupa diletakkan di mana. Aku tidak bekerja. Usia sudah tidak layak dilamar perusahaan atau instansi. Yang tersisa cuma keterampilan. Tapi keterampilan tanpa peluang kadang rasanya seperti pisau tumpul: ada, tapi tidak bisa dipakai untuk memotong apa-apa.
Sore, aku yang jemput anak-anak. Kadang jadwalnya kacau. Anak pertama pulang jam segini, anak kedua jam segitu. Aku pernah menunggu di sekolah yang salah. Anakku sampai bilang, “Pak, kita sekolahnya bukan di sini.” Ya, bapakmu ini sedang latihan jadi sopir pribadi, Nak.
Yang paling berat bukan cuma soal uang. Tapi soal diamnya Ila. Kalau aku tanya, “Ila, capek?” dia sering diam. Tidak berkata sepatah kata. Kadang hanya mengangguk, kadang senyum tipis, kadang pura-pura sibuk merapikan tas. Diamnya itu yang melukaiku. Aku sadar, mungkin aku juga sudah melukai perasaannya. Bukan dengan kata kasar, tapi dengan keadaan. Aku belum bisa memberi nafkah lebih. Sudah lama juga aku tidak bisa memberi materi. Ila tidak mengeluh, tapi aku tahu lelahnya nyata.
Pendapatan dan pengeluaran tidak seimbang. Kadang kami harus puasa belanja. Bukan puasa makan, tapi puasa membeli apa pun yang tidak berhubungan dengan sekolah anak. Dua anak, dua kebutuhan berbeda. Harus benar-benar irit. Kalau ada uang, didahulukan untuk pendidikan. Kalau tidak ada, ya... kami makan sederhana. Menu andalan: nasi, telur, tempe, dan doa. Kadang doanya lebih banyak dari lauknya.
Aku tidak mau terus begini. Usia boleh tidak lagi muda, tapi pikiran jangan ikut tua. Aku mulai mencari peluang. Mungkin jasa perbaikan, mungkin bantu tetangga, mungkin jualan kecil-kecilan lewat HP, mungkin antar barang pakai motor butut itu. Tidak gengsi. Yang penting halal. Aku ingin Ila tidak selalu jadi superhero. Sesekali biarlah aku jadi pahlawan cadangan, minimal bisa bantu bayar kebutuhan anak.
Suatu pagi, aku bangun lebih awal. Aku buatkan kopi untuk Ila. Tidak enak, tapi setidaknya panas. Aku bilang, “Ila, pelan-pelan ya. Aku cari jalan. Aku tidak janji langsung bisa, tapi aku tidak mau kamu jalan sendiri terus.” Ila diam. Lalu dia tersenyum. Kecil. Tapi cukup buat aku yakin bahwa diamnya bukan berarti menyerah. Mungkin dia hanya sedang menunggu aku bergerak.
Mungkin rezeki tidak datang lewat perusahaan atau instansi. Mungkin lewat langkah kecil yang selama ini aku anggap remeh. Dan mungkin, dengan sedikit adaptasi, motor butut tua itu bukan cuma alat transportasi, tapi saksi bahwa kami masih berusaha sampai rumah.
Ini cerita fiktif. Tapi doanya, siapa tahu nyata.
Iklan
sponsor