Multitasking Menurunkan Kapasitas Memori Kerja

Multitasking bisa bikin otak jadi lemot
Please wait 0 seconds...
Scroll Down and click on Go to Link for destination
Congrats! Link is Generated


Jujur, aku dulu sempat bangga kalau bisa multitasking. Makan sambil nonton YouTube, rapat sambil main ponsel, kerja sambil balas chat, tidur sambil mikirin utang. Kelihatannya produktif. Padahal otakku sedang menjerit: “Bang, satu-satu, please. Aku bukan server.”

Berdasarkan paper-paper neurosains paper ilmiah, bukan kertas buat bungkus gorengan multitasking yang dilakukan terus-menerus meningkatkan beban kerja otak di korteks prefrontal. Korteks prefrontal ini semacam CEO di otak. Tugasnya fokus, merencanakan, mengontrol diri, dan menyimpan informasi sementara alias memori kerja. Kalau kamu terus-menerus pindah tugas, CEO ini dipaksa meeting tanpa henti. Akhirnya? Rentang perhatian memendek, kapasitas memori kerja menurun, dan otak cepat panas serta lelah.

Kalau bahasa umumnya: otak cepat panas. Otak E? Iya, E dari Error. Karena kalau dipaksa multitasking terus, outputnya sering error: lupa, lelah, emosi, dan pengen rebahan terus. Bukan karena otakmu jelek. Tapi karena kamu memaksanya kerja rodi tanpa cooling pad.

Masalahnya, otak manusia sebenarnya nggak dirancang untuk multitasking beneran. Yang kita sebut multitasking itu biasanya task-switching: otak berpindah cepat dari satu tugas ke tugas lain. Setiap perpindahan ada biaya. Namanya switching cost. Makin sering pindah, makin boros energi. Ibarat laptop buka 27 tab, RAM penuh, kipas bunyi kencang, tapi kerjaan tetap lambat. Ya, otakmu itu laptop tua yang dipaksa jadi server.

Contoh paling gampang ada di sekitar kita: makan sambil nonton. Makan sambil nonton TV. Makan sambil nonton YouTube. Makan sambil main ponsel. Sekilas santai, kan? Padahal otak harus memproses rasa makanan, gerakan mengunyah, suara video, notifikasi, chat masuk, dan emosi karena lihat komentar netizen. Multitasking level dewa, tapi hasilnya? Makan nggak dinikmati, kenyang nggak sadar, dan otak lelah.

Coba lihat di sekitarmu. Kalau ada orang makan sambil main ponsel, biasanya dia lambat merespons, cepat emosional, dan susah diajak ngobrol. Bukan berarti pasti begitu, tapi polanya sering kelihatan. Otaknya sedang penuh. Bukan penuh ilmu, tapi penuh tab yang belum ditutup. Itu sebabnya, kalau kamu makan, taruh dulu ponselnya. Meja makan bukan markas komando. Kunyah makananmu, nikmati, lalu lanjut hidup.



Contoh lain: rapat. Kalau kamu sedang rapat, lalu lawanmu di rapat main ponsel, artinya orang itu tidak serius menanggapi kamu. Kecuali dia bilang, “Maaf, izin, ini penting.” Di luar itu, main ponsel saat orang bicara itu bahasa tubuh yang jelas: “Saya hadir secara fisik, tapi jiwa saya sedang scroll TikTok.” Sebaliknya, kalau kamu yang main ponsel saat rapat, jangan heran kalau orang lain merasa tidak dihormati. Rapat ya rapat. Lihat mata lawan bicara. Otakmu juga jadi lebih mudah paham.

Otak manusia memang bisa multitasking sedikit-sedikit, terutama untuk tugas yang ringan dan otomatis. Jalan santai sambil dengar podcast? Masih oke. Tapi makan sambil meeting sambil scroll sambil mikirin cicilan? Itu bukan multitasking, itu penyiksaan korteks prefrontal.

Kalau otak cepat panas, gejalanya bisa macam-macam: gampang lupa, susah fokus, cepat marah, mudah capek, dan pengennya rebahan terus. Bukan karena kamu malas. Bisa jadi karena otakmu belum sempat cooling down.

Solusinya bukan jadi biksu digital yang anti teknologi. Cukup mulai dari single-tasking. Satu waktu, satu tugas. Makan ya makan. Rapat ya rapat. Kerja ya kerja. Balas chat ya balas chat. Notifikasi dimatikan saat fokus. Istirahat cukup. Minum air. Tidur jangan kayak pahlawan tanpa tanda jasa.

Jadi, mulai sekarang, coba taruh ponsel saat makan. Lihat mata orang saat rapat. Kerjakan satu hal sampai selesai. Otakmu bukan mesin tanpa batas. Dia lebih seperti laptop kesayangan yang RAM-nya terbatas: kalau dibuka terlalu banyak tab, kipasnya bunyi, tapi kerjanya lambat. Kasihan. Beri dia satu tugas saja. Nanti dia berterima kasih dengan cara yang paling keren: kamu jadi lebih tenang, lebih fokus, dan tidak gampang emosional.

Iklan

sponsor

Posting Komentar

💬 Kolom Komentar

Silakan masuk menggunakan akun Google Anda.

Memuat komentar...

Subscribe

Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.