Bulan Agustus selalu punya warna sendiri. Di mana-mana, dari perkotaan hingga pelosok desa, semarak lomba menghiasi setiap sudut. Ada lomba balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, hingga lomba modern seperti e-sport dan dance cover. Tapi di Desa Keras Tegalan, Agustus bukan sekadar bulan kompetisi ini adalah bulan pulang, bulan berkumpul, dan bulan di mana gotong royong menjelma menjadi tontonan yang tak terlupakan.
Saya masih ingat betul tahun lalu. Desa kami bagaikan hidup kembali. Pemuda-pemudi yang biasanya sibuk di kota atau tenggelam dengan dunianya masing-masing, tiba-tiba kompak. Mereka bahu-membahu menyiapkan tenda, menghias baliho, hingga mengatur jalannya lomba. Tak ada sekat antara anak-anak, remaja, hingga bapak-bapak. Semua larut dalam satu semangat: merayakan kemerdekaan dengan kebersamaan.
Namun, satu lomba yang selalu menjadi magnet utama adalah panjat pinang di halaman depan masjid. Pohon pinang yang sudah dilumuri pelumas itu menjadi saksi bisu tawa, teriakan, dan usaha nekad para peserta. Anak-anak kecil dengan lincah mencoba memanjat, sementara pemuda-pemuda desa saling memijak bahu, membentuk menara manusia yang goyah tapi penuh tawa. Bukan hadiahnya yang utama meski ada sepeda, uang tunai, dan perlengkapan sekolah melainkan kebersamaan saat saling mendukung dari bawah.
"Dulu Lebih Seru, Waktu Gawai Masih Jarang"
Foto-foto lomba panjat pinang tahun 2017 yang saya abadikan kini sering jadi perbincangan hangat di grup WhatsApp desa. Banyak yang berkomentar:
"Wah, tahun itu beda. Serunya bukan main. Semua orang fokus ke lomba, bukan ke layar hp."
Dan itu benar adanya.
Tahun 2017, memang masih sedikit warga yang punya ponsel pintar. Anak-anak lebih sibuk berlarian lumpuran, ibu-ibu bersorak kencang, dan bapak-bapak jadi wasit dengan semangat yang menggebu. Tak ada yang menyibukkan diri dengan merekam lalu mengunggah ke media sosial. Semua hadir secara utuh dalam tawa, dalam peluh, dalam pelukan kemenangan.
Sekarang? Gawai ada di mana-mana. Anak-anak lebih antusias main Mobile Legends daripada panjat pinang. Pemuda sibuk mengabadikan momen daripada ikut memanjat. Bahkan ada yang lebih peduli pada konten daripada kemeriahan itu sendiri.
Bukan berarti generasi sekarang salah. Hanya saja, ada nuansa yang hilang. Keheningan sorak-sorai karena semua mata menunduk ke layar. Kebersamaan yang tergusur oleh notifikasi.
Antara Kenangan dan Tantangan Zaman
Tahun ini, panitia pemuda masih berusaha menggelar lomba panjat pinang. Tapi antusiasme mulai menurun. Banyak yang lebih tertarik lomba futsal atau pubg mobile. Desa Keras Tegalan tak lagi heboh dengan suara "gass pol!" dari bawah pohon pinang. Sekarang lebih sering terdengar "serbu!" di dunia maya.
Namun, saya tetap percaya, jiwa gotong royong tak pernah mati. Mungkin bentuknya berubah. Mungkin lomba panjat pinang kini lebih banyak disaksikan lewat siaran langsung daripada dihadiri. Tapi bagi saya, foto-foto 2017 adalah pengingat: bahwa kemeriahan sejati tak diukur dari jumlah like atau view, tapi dari seberapa erat bahu kita saling bersentuhan, seberapa keras kita tertawa tanpa filter, dan seberapa lama kita saling menatap bukan menatap layar.
Pesan di Balik Bulan Agustus
Bagi generasi yang pernah merasakan panjat pinang tanpa ponsel, kenangan itu adalah harta. Bagi generasi sekarang, mungkin mereka tak pernah merasakan lengketnya pelumas di tangan atau pegalnya bahu diinjak teman. Tapi bukan berarti mereka tak bisa belajar.
Agustus adalah bulan untuk kembali. Kembali ke akar, kembali ke kampung, dan kembali sadar bahwa lomba paling seru bukan yang paling banyak ditonton, tapi yang paling banyak dirasakan bersama.
Jadi, tahun ini, jika Anda di Desa Keras Tegalan atau di mana pun, coba tinggalkan gawai sejenak. Tonton lomba dengan mata, bukan dengan kamera. Dukung teman dengan suara, bukan dengan stiker di grup. Karena kemeriahan sejati tak akan pernah terekam sempurna oleh lensa hanya bisa dirasakan oleh hati yang hadir utuh.
Iklan
sponsor