Sepeda Jam 5 Pagi Headset Rock n Roll

Sepeda Jam 5 Pagi, Rock n Roll, dan Headset Tak Terasi
Please wait 0 seconds...
Scroll Down and click on Go to Link for destination
Congrats! Link is Generated


Jam lima pagi itu jam yang ajaib. Bagi sebagian orang, ini waktu untuk tidur lagi. Bagi saya, ini waktu untuk berperang melawan selimut, lalu menuntun sepeda keluar rumah. Tujuannya mulia: mencari udara segar. Bukan udara kamar yang baunya seperti kapas dan mimpi buruk.

Sepeda saya bukan sepeda mahal. Dia setia, agak berdecit, dan kadang giginya loncat sendiri. Tapi tidak apa-apa. Yang penting rodanya masih bulat dan saya masih bisa mengayuh sambil menyanyi fals.

Headset? Ini bagian penting. Saya pakai headset tak terasi. Entah siapa yang memberi nama, tapi saya pastikan bukan bekas wadah terasi. Tidak ada bau udang fermentasi. Kalau ada, mungkin bebek di sawah sudah mengejar saya dari tadi.

Playlist pagi ini jelas: rock n roll. AC/DC, Led Zeppelin, Queen, Deep Purple, The Rolling Stones. Begitu “Back in Black” mulai, kaki langsung mengayuh. Saya merasa seperti rocker panggung. Padahal sepeda saya cuma sepeda kota yang setangnya agak miring. Tapi tidak apa-apa, delusi pagi itu murah.

Rutenya melewati persawahan. Jam lima, langit masih biru gelap. Embun menempel di daun padi. Bau tanah basah campur angin pagi. Kadang ada kabut tipis, seperti sawah sedang menghela napas. Udara segar masuk ke paru-paru. Rasanya seperti otak di-restart dari mode “malas” ke mode “hidup”.

Saya lewat, beberapa petani sudah ada di sawah. Saya anggukkan kepala. Mereka mungkin bingung kenapa saya senyum-senyum sendiri sambil mendengar gitar listrik. Di tikungan, ada bebek. Mereka menatap saya. Saya tatap balik. Kami sama-sama tidak mengerti hidup. Tapi bebek tetap keren.

Rock n roll dan sawah memang kombinasi aneh. Satu identik dengan panggung, jaket kulit, dan rambut kribo. Satunya lumpur, cangkul, dan suara katak. Tapi justru itu lucunya. Di tengah sawah, “Bohemian Rhapsody” terasa seperti opera alam. Angin ikut jadi backing vocal. Katak jadi drummer. Saya jadi vokalis yang tidak jelas.

Tapi ingat, pakai headset jangan volume penuh. Kita tetap harus dengar klakson, suara motor, atau petani yang teriak “awas, ada lumpur!” Kalau perlu, satu telinga dibiarkan bebas. Rock n roll boleh, tapi jangan sampai nyungsep ke sawah. Nanti malah jadi lagu “Highway to Hospital”.

Setelah satu dua jam, saya pulang. Badan basah keringat. Sepeda kotor. Tapi kepala lebih ringan. Udara segar, pemandangan hijau, dan riff gitar sudah cukup membuat hari terasa lebih manusiawi.

Jadi, kalau besok jam lima pagi Anda melihat seseorang bersepeda sambil manggut-manggut mendengar rock n roll, jangan ganggu. Itu mungkin saya. Atau mungkin bebek yang sedang belajar gitar. Yang jelas, headset saya tak terasi.

Iklan

sponsor

Posting Komentar

💬 Kolom Komentar

Silakan masuk menggunakan akun Google Anda.

Memuat komentar...

Subscribe

Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.