Sepeda saya bukan sepeda mahal. Dia setia, agak berdecit, dan kadang giginya loncat sendiri. Tapi tidak apa-apa. Yang penting rodanya masih bulat dan saya masih bisa mengayuh sambil menyanyi fals.
Headset? Ini bagian penting. Saya pakai headset tak terasi. Entah siapa yang memberi nama, tapi saya pastikan bukan bekas wadah terasi. Tidak ada bau udang fermentasi. Kalau ada, mungkin bebek di sawah sudah mengejar saya dari tadi.
Playlist pagi ini jelas: rock n roll. AC/DC, Led Zeppelin, Queen, Deep Purple, The Rolling Stones. Begitu “Back in Black” mulai, kaki langsung mengayuh. Saya merasa seperti rocker panggung. Padahal sepeda saya cuma sepeda kota yang setangnya agak miring. Tapi tidak apa-apa, delusi pagi itu murah.
Rutenya melewati persawahan. Jam lima, langit masih biru gelap. Embun menempel di daun padi. Bau tanah basah campur angin pagi. Kadang ada kabut tipis, seperti sawah sedang menghela napas. Udara segar masuk ke paru-paru. Rasanya seperti otak di-restart dari mode “malas” ke mode “hidup”.
Saya lewat, beberapa petani sudah ada di sawah. Saya anggukkan kepala. Mereka mungkin bingung kenapa saya senyum-senyum sendiri sambil mendengar gitar listrik. Di tikungan, ada bebek. Mereka menatap saya. Saya tatap balik. Kami sama-sama tidak mengerti hidup. Tapi bebek tetap keren.
Rock n roll dan sawah memang kombinasi aneh. Satu identik dengan panggung, jaket kulit, dan rambut kribo. Satunya lumpur, cangkul, dan suara katak. Tapi justru itu lucunya. Di tengah sawah, “Bohemian Rhapsody” terasa seperti opera alam. Angin ikut jadi backing vocal. Katak jadi drummer. Saya jadi vokalis yang tidak jelas.
Tapi ingat, pakai headset jangan volume penuh. Kita tetap harus dengar klakson, suara motor, atau petani yang teriak “awas, ada lumpur!” Kalau perlu, satu telinga dibiarkan bebas. Rock n roll boleh, tapi jangan sampai nyungsep ke sawah. Nanti malah jadi lagu “Highway to Hospital”.
Setelah satu dua jam, saya pulang. Badan basah keringat. Sepeda kotor. Tapi kepala lebih ringan. Udara segar, pemandangan hijau, dan riff gitar sudah cukup membuat hari terasa lebih manusiawi.
Jadi, kalau besok jam lima pagi Anda melihat seseorang bersepeda sambil manggut-manggut mendengar rock n roll, jangan ganggu. Itu mungkin saya. Atau mungkin bebek yang sedang belajar gitar. Yang jelas, headset saya tak terasi.
Iklan
sponsor
