Di tengah obrolan soal kerjaan yang tidak ada habisnya, kamu bilang pelan, Urip mung mampir ngombe, Mas. Hidup cuma mampir minum.”
Aku ketawa dulu. Kalau cuma mampir minum, berarti kita ini tamu, bukan pemilik warung, ya?
Tapi makin dipikir, makin dalam. Kadang kita merasa hidup ini panjang sekali. Hari ini mengejar uang, besok mengejar jabatan. Setelah dapat jabatan, kita kejar pengakuan. Sudah dipuji, masih ingin lebih dihormati. Sudah punya banyak, masih takut kehilangan. Padahal tanpa terasa, waktu terus jalan. Rambut yang dulu hitam perlahan memutih. Tubuh yang dulu kuat mulai kenal lelah. Orang-orang yang dulu selalu ada, satu per satu pergi. Dan kita baru sadar: ternyata hidup tidak selama yang kita bayangkan.
Kita Ini Tamu, Bukan Pemilik Warung
Coba bayangkan, kamu mampir ke warung kopi. Apa yang kamu lakukan? Duduk, pesan minum, ngobrol sebentar, menikmati suasana, lalu bayar, dan pergi. Kamu tidak membongkar kursi, tidak mengecat dinding, tidak mengklaim meja itu jadi milikmu selamanya. Kamu sadar posisimu: tamu.
Nah, hidup juga begitu. Kita ini tamu. Bukan pemilik abadi. Rumah megah, mobil mahal, jabatan tinggi, pujian manusia, semuanya cuma “fasilitas warung” yang dipinjam sebentar. Boleh dipakai, boleh dinikmati, tapi jangan sampai kita merasa itu semua milik kita selamanya.
Masalahnya, kita sering kalap. Seperti orang mampir minum, tapi bawaannya ingin mengangkut seluruh isi warung. Sudah punya satu gelas, masih ingin dua. Sudah kenyang, masih takut kelaparan. Sudah bahagia, masih cemas melihat kebahagiaan orang lain. Akhirnya bukan minum yang kita nikmati, tapi gelasnya yang kita hitung terus.
Bukan Berarti Hidup Itu Receh
Ada yang salah paham dengan ungkapan ini. Urip mung mampir ngombe bukan berarti hidup tidak penting, lalu kita pasrah, rebahan, tidak kerja, tidak berbuat apa-apa. Bukan itu.
Justru sebaliknya. Kalau kita cuma mampir, maka yang penting bukan seberapa lama kita di tempat itu, tetapi bagaimana kita menjalani persinggahan. Kalau cuma sebentar, ya jangan buat rusuh. Jangan buat orang lain susah. Jangan tinggalkan warung dalam keadaan kotor.
Ketika mampir minum, kita tidak perlu membawa seluruh isi dunia. Kita berhenti sebentar, melepas dahaga, lalu melanjutkan perjalanan. Begitu pula hidup. Harta boleh dicari. Jabatan boleh dikejar. Cita-cita boleh diperjuangkan. Kesuksesan boleh diraih. Tapi jangan sampai semua itu membuat kita lupa bahwa semuanya hanya bagian dari perjalanan.
Kamu boleh kerja keras. Kamu boleh punya target. Kamu boleh ingin kaya. Tapi jangan sampai kekayaan membuatmu pelit, jabatan membuatmu sombong, dan kesuksesan membuatmu lupa siapa dirimu sebelum semua itu datang.
Yang Dibawa Pulang Bukan Gelasnya, Tapi Rasa Kopinya
Suatu hari, semua akan selesai. Kita akan keluar dari warung dan melanjutkan perjalanan yang tidak kita tahu ke mana. Yang kita bawa bukan rumah megah, bukan kendaraan mahal, bukan banyaknya pujian manusia. Yang tinggal adalah jejak yang pernah kita tinggalkan: kebaikan yang pernah kita lakukan, orang yang pernah kita bantu, ilmu yang pernah kita bagikan, dan kasih sayang yang pernah kita berikan.
Ibarat ngopi, yang dibawa pulang bukan gelasnya. Gelas tinggal di warung. Yang tersisa adalah rasa kopi di lidah, kehangatan di dada, dan cerita yang mungkin dikenang orang lain. Maka jangan sibuk mengumpulkan gelas. Sibuklah menciptakan rasa yang baik.
Kalau hari ini kamu bisa membantu orang, bantu. Kalau kamu punya ilmu, bagikan. Kalau kamu punya rezeki lebih, berbagi. Kalau kamu punya waktu, hadir untuk orang yang kamu sayangi. Karena itu semua yang akan tetap hidup, bahkan ketika kita sudah tidak ada.
Cara Ngopi yang Benar: Seruput, Nikmati, Jangan Tumpah
Jadi bagaimana makna urip mung mampir ngombe dalam kehidupan sehari-hari? Menurutku, ini bukan ajakan untuk malas, tapi ajakan untuk sadar.
Pertama, nikmati hidup tapi jangan diperbudak kenikmatan. Kopi enak, tapi kalau minum terus sampai tidak tidur, ya repot. Harta enak, tapi kalau mengejarnya sampai lupa keluarga, ya rugi.
Kedua, kejar cita-cita tapi jangan kehilangan diri sendiri. Naik pangkat boleh. Jadi terkenal boleh. Tapi jangan sampai saat melihat cermin, kita tidak lagi mengenal orang di dalamnya.
Ketiga, cari rezeki tapi jangan lupa berbagi. Rezeki itu bukan cuma untuk ditumpuk. Ada sebagian yang memang untuk orang lain. Kalau semua dibawa sendiri, nanti malah berat di perjalanan.
Keempat, bangun nama tapi jangan lupa membangun kebaikan. Nama baik itu penting, tapi kebaikan lebih penting. Sebab nama bisa dilupakan, kebaikan sering tetap hidup di hati orang.
Persinggahan yang Berarti
Kita tidak pernah benar-benar tahu berapa lama persinggahan ini akan berlangsung. Bisa panjang, bisa juga sebentar. Maka selagi masih diberi kesempatan untuk mampir, mari minum secukupnya, berjalan dengan kesadaran, berbuat sebanyak-banyaknya kebaikan. Jangan terlalu menggenggam dunia, karena kita sendiri sedang berada dalam perjalanan meninggalkannya.
Urip mung mampir ngombe. Hidup hanyalah persinggahan. Maka jadikan persinggahan itu berarti. Jangan cuma datang, pesan kopi, foto-foto, lalu pergi tanpa meninggalkan apa pun.
Nah, menurut panjenengan, apa makna Urip Mung Mampir Ngombe dalam kehidupan sehari-hari? Tulis pendapat panjenengan di kolom komentar. Aku tunggu sambil ngopi. Kalau perlu, sekalian traktir aku es teh. 😄
Iklan
sponsor