Dan Kita Masih Belum Merdeka

Please wait 0 seconds...
Scroll Down and click on Go to Link for destination
Congrats! Link is Generated
Dan Kita Masih Belum Merdeka
Ilustrasi gambar


Jadi gini, saya lagi iseng baca-baca ulang tulisan Tan Malaka. Bukan karena lagi sok intelektual, tapi karena beberapa kalimatnya itu rasanya kayak ditulis kemarin sore, bukan 80 tahun lalu. Serius, beberapa kutipannya bikin saya pengen ketawa sekaligus pengen banting meja. Tapi meja saya mahal, jadi saya tulis artikel ini saja.

“Merdeka itu harus 100 persen”

Bayangkan suasana tahun 1945. Baru saja proklamasi, orang-orang udah teriak “Merdeka! Merdeka!” di mana-mana. Terus tiba-tiba ada satu orang yang datang tanpa diundang ke pertemuan para petinggi, berdiri, dan bilang dengan santainya: “Harus aku katakan bahwa kita belum merdeka, karena merdeka haruslah 100 persen.”

Orang ini bukan sedang cari perhatian. Ini Tan Malaka. Dan dia serius.

Dia melihat bahwa kemerdekaan yang baru diproklamirkan itu, menurutnya, “diatur oleh segelintir manusia” dan tidak menciptakan revolusi besar yang sesungguhnya. Buat Tan Malaka, merdeka bukan cuma soal bendera naik, lagu kebangsaan dinyanyikan, lalu semua orang pulang ke rumah dan makan nasi uduk. Merdeka itu harus 100 persen bukan setengah-setengah, bukan “merdeka tapi masih ada tentara asing lalu-lalang”, bukan “merdeka tapi ekonomi masih dikuasai orang lain”.

Dan lucunya, konsep “Merdeka 100%” ini dia gagas jauh sebelum 1945. Jadi ketika orang lain baru sibuk bikin panitia dan nyusun teks proklamasi, Tan Malaka udah ngomong: “Guys, kalau merdeka cuma buat segelintir orang, itu bukan merdeka namanya.”

Saya kadang mikir, kalau Tan Malaka hidup sekarang, dia mungkin bakal nge-tweet: “Merdeka 100% itu kayak sinyal WiFi. Kalau cuma 60%, ya tetap aja lag.” Dan saya akan retweet.

Soal pendidikan: “Mendingan nggak usah sekolah sekalian”

Ini bagian favorit saya. Tan Malaka ini galaknya minta ampun soal pendidikan. Dia nulis di Madilog:

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.”

Aduh. Pedas, kan?

Tapi coba pikirkan. Tan Malaka ini bukan anti-sekolah. Dia sendiri guru. Dia mendirikan Sekolah SI (Sarekat Islam) untuk rakyat jelata, untuk kaum kromo. Yang dia kritik itu adalah model pendidikan kolonial yang mencetak orang-orang yang merasa “wah, saya sudah sekolah, saya beda dari yang lain” — padahal begitu lulus, mereka nggak mau turun ke sawah, nggak mau ngobrol sama petani, nggak mau menyentuh lumpur. Mereka merasa cangkul itu benda asing.

Tan Malaka bilang, pendidikan yang kayak gitu mending nggak usah ada. Karena pendidikan yang benar itu bukan bikin kamu naik ke atas dan menutup pintu, tapi bikin kamu turun ke bawah dan membuka pintu selebar-lebarnya.

Dan buat saya pribadi, ini masih relevan banget. Saya pernah ketemu orang yang baru selesai S2 terus ngomong, “Ah, saya nggak bisa ngobrol sama tukang bangunan, bahasanya nggak nyambung.” Ya, mungkin kamu yang nggak nyambung, bukan dia.

Tujuan pendidikan: tajam, kukuh, halus

Terus, apa sih tujuan pendidikan buat Tan Malaka? Dia bilang gini:

“Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan.”

Tiga hal. Tajam, kukuh, halus. Bukan cuma pintar secara akademik. Bukan cuma jago matematika atau hafal sejarah. Tapi juga punya kemauan yang kuat berani berdiri di atas keyakinan sendiri dan punya perasaan yang halus, yang artinya bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain.

Pendidikan yang cuma “mempertajam kecerdasan” tapi tumpul hatinya? Itu melahirkan orang pintar yang sombong. Pendidikan yang cuma “memperkukuh kemauan” tapi nggak pakai otak? Itu melahirkan orang keras kepala yang bahaya. Tapi pendidikan yang menggabungkan ketiganya? Itu baru manusia seutuhnya.

Saya suka cara Tan Malaka melihat pendidikan. Nggak kayak orang yang cuma ngomong “pendidikan itu hak semua orang” tapi nggak pernah mikir apa isi pendidikannya. Buat dia, pendidikan itu alat pembebasan. Dan pembebasan itu harus 100 persen juga.

Kalau cuma separuh, ya sama aja kayak jendela yang cuma bisa dibuka 30 derajat tetap pengap.

“Lapar tak berarti kenyang”

Ini kutipan yang paling bikin saya pengen nangis dan ketawa sekaligus:

“Lapar tak berarti kenyang buat si miskin. Si lapar yang kurus kering tak akan bisa kenyangkan dengan kata kenyang saja. Walaupun kita ulang 1001 kali.”

Tan Malaka ngomong ini di Madilog. Konteksnya? Dia lagi ngomong soal logika. Tapi intinya jauh lebih dalam dari sekadar teori logika. Dia bilang: kata-kata nggak bisa mengisi perut. Simpati tanpa tindakan itu omong kosong. Empati tanpa perbuatan itu cuma status WhatsApp.

Coba bayangkan: kamu kelaparan. Perutmu kosong tiga hari. Terus ada orang datang, ngasih kamu ceramah selama dua jam tentang “indahnya rasa kenyang” dan “betapa bersyukurnya orang yang sudah makan”. Kamu bakal bilang apa? Mungkin kamu bakal bilang, “Bang, kasih nasi dulu, baru ceramah.”

Tan Malaka ngerti ini. Dia nggak cuma ngomong soal pendidikan, dia bikin sekolah. Dia nggak cuma ngomong soal kemerdekaan, dia turun ke lapangan, ngumpulin massa, berani masuk penjara keluar penjara, dibuang, balik lagi. Dia hidup dalam pembuangan, dipenjara berkali-kali, tapi nggak pernah berhenti.

Jadi, kita sudah merdeka belum?

Kalau Tan Malaka masih hidup hari ini, saya pengen banget nanya satu hal: “Pak, menurut Bapak, kita udah 100 persen belum?”

Dan saya curiga dia bakal diam sebentar, ngeliatin sekitar, terus bilang dengan nada khasnya yang datar tapi menusuk: “Kamu tanya sendiri, deh.”

Karena kemerdekaan 100 persen bukan cuma soal nggak ada penjajah fisik. Tapi juga soal rakyat yang nggak bisa dibodohi, anak-anak muda yang nggak merasa lebih tinggi dari petani, dan pendidikan yang bikin orang tajam otaknya, kukuh hatinya, halus perasaannya.

Tan Malaka mungkin sudah pergi. Tapi pertanyaannya masih menggantung di udara. Dan sejujurnya, saya belum berani jawab.

Iklan

sponsor

Posting Komentar

💬 Kolom Komentar

Silakan masuk menggunakan akun Google Anda.

Memuat komentar...

Subscribe

Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.