Minggu pagi, 4 Oktober 2026. Jam baru menunjukkan pukul 04.38, tapi saya udah siap-siap dengan jersey, botol minum, dan tentu saja... niat yang kadang lebih kuat dari otot. Abis sholat Subuh, saya dan Bapak Bambang Cakrawala mulai gowes. Yap, nama beliau memang sekeren itu kayak nama tokoh di film petualangan, dan ternyata petualangannya beneran!
Rute awal?
Ke arah barat, lewat Desa Brambang, terus lurus aja sampai arah Pasar Gudo. Masih sepi, masih adem, masih semangat. Pokoknya vibe-nya masih "pagi yang damai" lah ya.
Pukul 06.45, kami sampai di depan Pasar Kunjang Kidul. Masih pagi banget kan?
Jadi kami putuskan lanjut terus. Sampai akhirnya ketemu perempatan lampu merah, saya belok kiri.
Nah, di sinilah plot twist-nya dimulai.
Datar Itu Ternyata Cuma di Mata
Begitu masuk area sawah, saya mulai ngerasa ada yang aneh. Jalan sih kelihatan datar... tapi kok berat ya?
Kayak ada yang narik sepeda dari belakang. Anginnya juga kencang, padahal matahari aja belum naik sepenuhnya. Saya mikir, "Ini gowes atau latihan beban sih?"
Ternyata benar kata orang-orang: area situ memang sedikit menanjak. Sedikit dalam bahasa goweser itu bisa berarti apa saja, mulai dari 2% sampai "ya Tuhan, kenapa saya ada di sini". Tapi ya sudah, gigi sepeda saya turunin, napas diatur, dan mental dipersiapkan.
Akhirnya sampai juga di Masjid Baidowi. Di sini kami santai sejenak, ngadem, minum, dan pura-pura tidak mengeluh soal tanjakan tadi. Setelah cukup, kami lanjut lagi lewat perkampungan yang pasti sudah tidak asing buat semua orang: Kampung Inggris. Iya, tempat di mana semua orang tiba-tiba bisa bilang Where are you going? dengan logat Pare yang khas.
Perjalanan lanjut, sampai akhirnya kami berhenti di Tugu Pare, tepat di depan rumah sakit. Foto dulu dikit, biar ada bukti kalau kami benar-benar gowes, bukan cuma pemanasan di depan rumah. Lalu... jalan lagi. Dan ternyata, eh, ternyata...
Ngajak ngopi.
Ya ampun, Pak Bambang. Ini gowes atau jalan-jalan kuliner sih?
Tapi ya tidak saya tolak. Namanya juga kopi pagi, siapa yang bisa menolak?
CFD? Tenang, Ada Jalan Alternatif
Setelah ngopi dan ngobrol ngalor-ngidul, kami jalan lagi. Tapi ternyata, jalanan ditutup! Ada CFD (Car Free Day). Nah lho, kami kan niatnya bersepeda, bukan ikut keramaian CFD yang penuh manusia dan balon-balonan itu. Akhirnya kami ambil jalan alternatif lewat depan masjid, menghindari keramaian. Cerdas juga kami ini.
Perjalanan lanjut lagi. Lewat Desa Badas, ketemu Jombok, sampai Desa Blimbing. Semua dilewati dengan semangat yang mulai menurun tapi harga diri tetap terjaga. Dan akhirnya... berhenti sejenak di Buk Grujuk, Diwek, Jombang. Jam tepat menunjukkan pukul 10.00. Sampai juga di titik nol lagi.
Epilog: Minggu Depan, Siapa Ikut?
Jadi begitulah ceritanya. Berangkat dari rumah pukul 04.38, pulang pukul 10.00. Total 5 jam lebih, tapi rasanya seperti... ya, 5 jam lebih. Tidak terasa juga sampai rumah lagi.
Badan lelah, tapi hati senang. Kopi sudah diminum, tanjakan sudah dilalui, dan cerita sudah dikumpulkan.
Bagaimana, ada yang mau ikut tidak minggu depan?
Tenang, rutenya katanya datar kok. Sok atuh, siapa tahu kita bisa ketemu Bapak Bambang Cakrawala lagi, dan kali ini...
semoga anginnya tidak sekeras minggu ini. Amin. 🚴♂️☕
Iklan
sponsor