Acaranya sendiri digelar di halaman belakang Kecamatan Diwek. Suasananya akrab, tapi topiknya lumayan “berat” kalau dipikir sambil rebahan. Saya datang mewakili Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Diwek, bareng Pak Ubaidillah selaku ketua PCM Diwek. Kami diberi ruang untuk ikut serta sebuah langkah baru yang saya rasa positif. Tapi karena ini pengalaman pertama, saya masih seperti murid baru di kelas: canggung, tapi penasaran. Belum hafal semua agenda BKAD Diwek, belum kenal semua orang. Untungnya, jagongan ini memang gayeng, jadi tidak terlalu canggung.
Parkir, Fasum, dan Tata Ruang: Dari Hal Sepele Jadi Serius
Salah satu bahasan yang menarik adalah penegakan aturan ketertiban lingkungan. Mulai dari parkir, fasilitas umum, sampai tata ruang. Kalau soal parkir, kadang kita suka “kreatif” sendiri motor parkir di mana saja, mobil berhenti di badan jalan, pokoknya asal ada ruang. Tapi ya, kalau dibiarkan, lama-lama kota santri ini bisa berubah jadi arena parkir liar. Di forum ini, warga diajak sadar bahwa ketertiban parkir bukan sekadar aturan, tapi soal kenyamanan bersama. Fasilitas umum juga jangan sampai diperlakukan seperti barang pribadi dipinjam tanpa izin, dipakai seenaknya, lalu ditinggal pergi. Tata ruang pun demikian: kos-kosan, bangunan, dan ruang publik harus sesuai aturan, bukan sesuai selera.
Judi Online: Musuh yang Licin
Yang tak kalah penting: kewaspadaan terhadap maraknya judi online. Ini bukan barang baru, tapi makin lama makin licin. Iklannya di mana-mana, kadang menyamar jadi game atau aplikasi pinjaman. Di forum JAGA KOSAN ini, warga diingatkan untuk saling mengawasi. Jangan sampai tetangga kita diam-diam kecanduan, atau malah rumahnya dipakai sebagai “markas” transaksi. Humornya, judi online itu lebih susah dipegang daripada belut. Tapi justru karena itu, kita butuh kesadaran kolektif bukan cuma aparat yang bergerak, tapi warga juga waspada.
Kos-Kosan Liar: Perlu Regulasi Tegas
Nah, ini dia topik yang bikin saya manggut-manggut. Kos-kosan liar. Di Kota Santri, keberadaan kos-kosan itu wajar banyak mahasiswa dan santri yang butuh tempat tinggal. Tapi kalau kos-kosan tumbuh subur tanpa izin, tanpa pengawasan, tanpa aturan yang jelas, bisa jadi masalah. Mulai dari keamanan, kebersihan, sampai potensi penyalahgunaan. Forum ini menekankan pentingnya regulasi yang tegas terkait keberadaan kos-kosan liar. Bukan untuk mempersulit, tapi untuk menertibkan. Ibaratnya, kos-kosan itu seperti jamur di musim hujan cepat tumbuh, apalagi kalau tidak ada aturan main. Maka perlu ada payung hukum yang jelas: siapa pemiliknya, berapa kamarnya, bagaimana pengelolaannya, dan apa kewajibannya terhadap lingkungan sekitar.
Partisipasi Warga: Jangan Cuma Jadi Penonton
Yang tak kalah seru adalah diskusi soal mekanisme partisipasi warga dalam program lingkungan dan keamanan. Acara JAGA KOSAN ini sendiri adalah contoh partisipasi warga diajak duduk bareng, ngobrol, dan mencari solusi. Tapi tentu tidak berhenti di jagongan. Perlu mekanisme yang jelas: bagaimana warga bisa melapor, mengusulkan, mengawasi, dan terlibat langsung. Jangan sampai warga cuma jadi penonton saat ada program kebersihan atau keamanan. Kalau perlu, dibentuk kelompok-kelompok kecil di tingkat RT/RW yang aktif. Jadi bukan hanya “program dari atas”, tapi juga “gerakan dari bawah”.
Catatan Personal: Pengalaman Pertama yang Menggoda untuk Kembali
Sebagai orang yang baru pertama ikut, saya mengapresiasi langkah BKAD Diwek yang sudah memberi ruang bagi PCM Diwek. Ini penting organisasi kemasyarakatan seperti Muhammadiyah punya energi dan jaringan yang bisa membantu. Saya dan Pak Ubaidillah memang belum banyak bicara di forum itu, lebih banyak mendengarkan dan menyerap informasi. Tapi justru dari situ saya belajar: ternyata banyak hal kecil di sekitar kita yang butuh perhatian bersama. Parkir, kos-kosan, judi online, sampai sampah semuanya saling terkait.
Jadi, meskipun saya masih “asing” dengan semua agenda BKAD Diwek, saya pulang dengan catatan: kegiatan JAGA KOSAN ini bukan sekadar jagongan gayeng. Ini ruang warga untuk peduli, tapi dengan cara yang santai dan tidak menggurui. Kalau ada undangan lagi, saya siap datang lebih awal biar bisa kenal lebih banyak orang dan nggak canggung lagi. Salam kota santri, salam tertib, bersih, dan nyaman.
Iklan
sponsor
