Jalan Tak Pernah Sendiri

Please wait 0 seconds...
Scroll Down and click on Go to Link for destination
Congrats! Link is Generated
Jalan Tak Pernah Sendiri
Foto Bersepeda Pagi


Jam setengah lima pagi, alarm sudah berteriak-teriak seperti tagihan yang jatuh tempo. Saya bangun, ambil wudu, salat subuh. Setelah itu, bukan kembali ke kasur walau kasur sempat membisikkan rayuan maut, “udah, tidur lagi aja” saya justru mengambil sepeda. Bukan sepeda balap mahal, bukan sepeda lipat yang harganya bisa buat beli motor bekas. Sepeda saya biasa saja, yang penting rodanya bulat, remnya pakem, dan joknya tidak menyiksa bagian tubuh yang tidak perlu disebut.

Kegiatan ini sederhana: bersepeda pagi, cuma 30 menit. Sebelum matahari keluar, langit masih gelap, udara masih dingin, dan jalanan masih sepi. Kadang saya merasa seperti satu-satunya manusia yang berolahraga, sementara yang lain masih berpelukan dengan bantal. Tapi justru di situlah nikmatnya. Saya tidak perlu bersaing dengan siapa-siapa. Jalan tak pernah sendiri ada embun, ada pohon-pohon yang setia berdiri, ada suara burung yang mungkin sedang rapat pagi, dan tentu saja, ada Allah yang selalu menemani.

Saya bersepeda melewati persawahan. Udara pagi di sana benar-benar segar, seperti minuman dingin di tengah terik. Kadang saya hirup dalam-dalam, lalu bersyukur. Betapa banyak orang yang ingin menghirup udara segar seperti ini, sementara saya tinggal mengayuh sepeda dan menikmatinya. Di tepi jalan ada pohon-pohon rindang. Kalau siang, mereka jadi tempat berteduh yang lumayan. Tapi pagi ini, mereka seperti teman yang diam-diam menjaga saya dari terik matahari yang belum datang.

Intinya, aset utama kita adalah kesehatan. Bukan sepeda mahal, bukan sepatu lari bermerk, bukan jam tangan yang bisa menghitung detak jantung sambil mengirim laporan ke bulan. Sepeda tidak harus mahal. Yang penting fungsinya utama, dan yang paling penting: nyaman. Karena sepeda yang nyaman bikin kita betah mengayuh. Sepeda mahal tapi tidak nyaman? Sama saja seperti makan di restoran mahal tapi lupa bawa dompet tidak nyaman.

Saya juga belajar bahwa hanya kita sendiri yang tahu bagaimana mengukur cara dan bagaimana baiknya. Apa yang kita makan, olahraga yang pas buat kita, ritme tubuh kita. Tidak perlu ikut-ikutan tren yang bikin tubuh malah protes. Saya memilih bersepeda 30 menit setiap pagi. Tidak muluk-muluk. Tidak sampai menggantikan waktu tidur yang cukup. Tidak sampai membuat lutut berteriak minta pensiun.

Setelah 30 menit, saya kembali ke rumah. Biasanya badan sudah berkeringat, napas sedikit naik, tapi hati senang. Sampai rumah, yang pasti air putih diminum. Santai saja, tidak perlu gaya-gayaan seperti atlet olimpiade. Lalu sarapan pisang rebus yang masih hangat. Begitu nikmat rasanya. Entah kenapa, pisang rebus setelah bersepeda pagi itu rasanya seperti makanan para raja. Hangat, manis, sederhana. Kadang saya berpikir, mungkin karena tubuh sedang bahagia, jadi apa pun terasa enak.

Jangan lupa, di mana pun berada, taat beribadah. Di jalan, di sawah, di bawah pohon, di mana saja. Karena perjalanan sepeda pagi ini bukan cuma soal fisik, tapi juga soal hati. Bersyukur bisa menghirup udara segar, bersyukur masih diberi kesehatan, bersyukur masih bisa mengayuh sepeda meski kadang bunyinya lebih ribut dari motor.

Jadi, tidak perlu menunggu sepeda mahal untuk mulai bergerak. Tidak perlu menunggu waktu luang yang sempurna. Cukup 30 menit setelah subuh, sebelum matahari keluar. Nikmati apa adanya. Jalan tak pernah sendiri kita ditemani udara pagi, pohon-pohon, dan tentu saja, diri kita sendiri yang akhirnya memilih untuk hidup lebih sehat.

Iklan

sponsor

Posting Komentar

💬 Kolom Komentar

Silakan masuk menggunakan akun Google Anda.

Memuat komentar...

Subscribe

Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.