Lama Datang Entah dari Mana

Please wait 0 seconds...
Scroll Down and click on Go to Link for destination
Congrats! Link is Generated
Lama Datang Entah dari Mana
Ilustrasi sumber AI


Jadi ceritanya begini.

Saya lagi duduk santai di warung kopi pinggir jalan, yang modelnya warung depan rumah tapi kursinya plastik warna-warni, kopinya tubruk, dan gula pasirnya disendokin sendiri seikhlas hati. Waktu itu saya lagi asyik menikmati kopi sambil scroll HP, sesekali ngelus dada mikirin hidup yaa, aktivitas nasional lah ya.

Tiba-tiba ada orang lewat, berhenti, natap saya lama banget. Saya juga natap balik. Dalam hati, "Kenal nggak sih ini orang? Wajahnya familiar. Tapi... siapa ya?"

Karena sama-sama bingung, kami malah saling tersenyum kaku. Senyum model "kayaknya kenal, tapi takut salah orang". Klasik banget.

Sampai akhirnya dia buka suara:

"Kamu... iya kan? Yang dulu sering main di lapangan itu?"

Deg. Saya nggak langsung jawab. Otak saya bekerja keras seperti komputer jadul loading Windows. Nama, nama, nama... siapa namanya?!

Eh, tiba-tiba nyala. Lampu otak saya menyala terang benderang.

"Woyyy! Kamu kan?! Yang dulu rambutnya selalu kena omel guru karena nggak rapi itu?!"

Dan kami pun tertawa. Ketawa keras kayak orang kesurupan. Beberapa pengunjung warung kopi sempat nengok, tapi kami nggak peduli. Kami baru sadar sudah hampir 29 tahun kami nggak ketemu. Dua puluh sembilan tahun! Itu lebih lama dari umur anak tetangga saya yang sekarang udah kerja.

Nggak ada komunikasi. Nggak ada WA. Nggak ada IG. Bahkan mungkin dulu belum ada HP sama sekali waktu kami terakhir main bareng. Kita cuma punya satu penyambung: wajah yang nggak asing.

Ajaibnya lagi, meski hampir 3 dekade nggak ketemu, kami masih inget. Masih inget cara ketawa masing-masing. Masih inget masa-masa bodoh dulu.

Dan yang Bikin Semakin Unik...

Dia nggak pernah nanya saya sekarang punya apa.

Nggak ada tuh pertanyaan model:

Sekarang kerja di mana?

atau

Udah punya rumah belum?

atau yang paling horor:

Sekarang mobilnya apa?

Nggak ada. Nol. Nihil.

Yang ada malah:

"Inget nggak dulu kita pernah ngapain aja?"

Dan percakapan pun mengalir deras seperti kopi tubruk yang dituang dari teko. Kami ngobrol tentang masa-masa lalu. Tentang hal-hal kecil yang dulu kelihatannya biasa, tapi sekarang jadi lucu dan berharga.

- Dulu pernah nginep di rumah dia, tapi malah ketiduran sebelum nonton film. Filmnya baru jalan 5 menit, kami udah pulas.

- Dulu pernah naik sepeda ngelilingi kampung cuma buat beli es teh di warung Bu Ani yang sekarang katanya udah almarhum. Es teh-nya biasa aja, tapi perjalanannya yang seru.

- Dulu pernah hujan-hujanan di lapangan, pulang-pulang demam bareng, dan besoknya sama-sama nggak masuk sekolah. Solidaritas tingkat tinggi.

- Dulu pernah berantem kecil soal siapa yang salah pas main bola, terus baikan lagi 10 menit kemudian karena ada yang ngajak jajan.

Kami tertawa. Tertawa lepas. Tertawa seperti dua bocah yang lupa kalau sekarang rambutnya mulai ada yang putih.

Ternyata, Nggak Semua Pertemuan Harus Jadi Ajang Pamer

Jujur, saya agak takut juga awalnya. Takut ketemu teman lama tuh biasanya ujung-ujungnya jadi ajang update status hidup. "Eh, sekarang aku udah punya ini lho."

Gue udah ke sini lho. "Anak ku udah juara ini lho."

Tapi tidak dengan teman saya yang satu ini.

Mungkin karena kami sama-sama sadar bahwa yang lebih berharga dari "sekarang kamu punya apa" adalah "dulu kita pernah ngapain aja."

Karena masa lalu yang kami bagi itu nggak bisa dibeli. Nggak bisa dipamerkan. Nggak bisa di-upload ke media sosial. Itu murni milik kami berdua, tersimpan rapi di memori, dan sekarang kembali dihidupkan lewat secangkir kopi di pinggir jalan.

Kopi di Warung Pinggir Jalan, Tempat Kenangan Berlabuh

Saya nggak tahu kenapa, tapi warung kopi pinggir jalan itu selalu punya magis tersendiri. Nggak ada AC. Nggak ada wifi kencang. Kursinya plastik.

Tapi justru di tempat seperti itu, percakapan jadi lebih jujur, lebih hangat, lebih... apa adanya.

Mungkin karena kita nggak sibuk menampilkan diri. Kita cuma duduk, menyeruput kopi, dan menjadi diri sendiri.

Dan malam itu, di warung kopi pinggir jalan, dua orang yang terpisah 29 tahun akhirnya bertemu lagi. Bukan untuk saling pamer. Bukan untuk saling tanya "punya apa". Tapi untuk tertawa bersama, mengenang masa bodoh yang indah, dan berterima kasih karena wajah yang dulu nggak asing itu masih bisa dikenali.

Teman lama nggak pernah nanya saya punya apa. Dia cuma mau tahu, saya masih ingat atau tidak.

Dan saya masih ingat. Selamanya akan ingat.

Besok-besok kalau lewat warung kopi pinggir jalan, coba deh berhenti sebentar. Siapa tahu semesta lagi iseng mempertemukanmu dengan masa lalumu. Jangan lupa pesan kopi dua gelas. ☕😄

Iklan

sponsor

Posting Komentar

💬 Kolom Komentar

Silakan masuk menggunakan akun Google Anda.

Memuat komentar...

Subscribe

Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.