Minggu berSepeda bahagia Luar Biasa

Please wait 0 seconds...
Scroll Down and click on Go to Link for destination
Congrats! Link is Generated
Minggu berSepeda bahagia Luar Biasa
Foto istimewa


Minggu biasanya memang jadi hari paling saya tunggu. Bukan karena mau libur kerja meski itu juga sih tapi karena waktunya bercanda bareng keluarga, terutama anak-anak. Kalau sudah berkumpul, rumah rasanya langsung berubah jadi taman bermain plus kadang jadi ajang rebutan remote TV. Tapi Minggu ini beda. Kami memutuskan untuk bersepeda bertiga. Eh, bertiga plus saya, jadi berempat dong. Ya intinya rame-rame lah.

Sepeda yang dipakai juga bukan sepeda mahal. Ada tiga sepeda anak yang siap tempur. Sepeda pertama dipakai Diken, sepeda kedua dipakai Dikrana, dan sepeda ketiga dipakai Mbak Ola. Lalu saya? Saya pakai sepeda biasa saya. Sepeda yang penting fungsinya, bukan karena mahal harganya. Sepeda saya ini mungkin bisa dibilang sepeda "seadanya tapi setia". Warnanya sudah agak kusam, belnya kadang bunyi kadang tidak, tapi nyaman digunakan. Pokoknya yang penting bisa dikayuh, bukan cuma bisa dipajang di depan rumah.

Kami bersepeda hanya keliling seputar RT saja. Rutenya sengaja saya pilih yang aman buat anak-anak. Tidak dilalui mobil, tidak dilalui motor, jadi pasti santai. Nggak ada teriakan "awas!" atau klakson yang bikin jantung loncat. Anak-anak bebas mengayuh sepeda mereka dengan riang. Diken paling semangat, kayuhnya kencang banget sampai saya harus ikut ngebut. Dikrana suka bunyiin bel sepedanya terus, mungkin dia pikir sedang ikut balapan Tour de France. Mbak Ola paling kalem, tapi kadang suka nyalip dari kiri tanpa aba-aba. Ya sudahlah, yang penting mereka seru dan bahagia.

Selama perjalanan, tawa mereka nggak berhenti. Ada saja tingkah lucu yang bikin saya dan istri senyum-senyum sendiri. Kadang Diken berhenti mendadak karena melihat kucing, Dikrana ngajak balapan padahal saya sudah capek, dan Mbak Ola sibuk memberi semangat ala komentator bola. Sederhana banget, tapi justru momen seperti ini yang bikin hati terasa penuh.

Sampai di rumah, kami langsung menuju halaman belakang. Di sana ada pohon klengkeng yang rindang. Di bawahnya saya sudah pasang tempat duduk dari kayu. Pas banget buat bersantai, apalagi saat siang hari, udaranya sejuk. Anak-anak langsung duduk merebahkan badan, ada yang masih pegang botol minum, ada yang langsung minta makan. Lalu kami makan rame-rame. Menu sederhana saja: nasi, lauk seadanya, plus kerupuk. Tapi entah kenapa, kalau makan bareng itu rasanya bahagia banget. Mungkin karena ada obrolan seru, tawa lepas, dan kadang rebutan lauk. Ya, walaupun cuma tahu tempe, kalau dimakan bersama keluarga, rasanya seperti makan di restoran bintang lima.

Hari itu saya belajar satu hal: kebahagiaan nggak perlu mahal. Sepeda biasa, rute keliling komplek, dan tempat duduk di bawah pohon klengkeng sudah cukup bikin anak-anak senang. Yang penting bukan sepeda merek apa, bukan harganya berapa, tapi kebersamaan dan tawa yang tercipta. Dan tentu saja, makan bareng yang bikin perut kenyang sekaligus hati hangat.

Jadi, kalau Minggu depan ditanya mau ke mana, saya sudah punya jawaban: bersepeda lagi, keliling se RT dan RW , lalu makan rame-rame di bawah pohon klengkeng. Asal jangan hujan saja. Kalau hujan, ya terpaksa bercanda di dalam rumah sambil ngemil. Tetap seru kok, yang penting rame-rame.

Iklan

sponsor

Posting Komentar

💬 Kolom Komentar

Silakan masuk menggunakan akun Google Anda.

Memuat komentar...

Subscribe

Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.