"Lo Tau Nggak Sih, Anak SD Aja Udah Pakai AI"
"Bro," kata teman saya sambil menyeruput kopinya, "saya tuh prihatin banget sama pendidikan sekarang."
Saya angkat alis. "Kenapa? Anak lo kenapa?"
"Bukan anak saya. Murid saya." Dia memang guru SD. "Saya sering banget nemu anak yang bahkan membaca dan menulis saja masih belum bisa. Kelas berapa? Ya kelas atas lah. Tapi baca kalimat sederhana aja masih terbata-bata."
Saya diam. Dia lanjut.
"Yang bikin saya makin pusing, nilai harian dia rendah banget. Tapi pas ulangan, nilainya melesat tinggi. Saya curiga dong. Saya telusuri. Ternyata... dia pakai AI buat jawab soal ulangannya."
Saya terdiam sebentar. "Anak SD?"
"Iya. Anak SD." Dia mengangguk pelan. "Saya nggak tahu harus sedih atau marah. Dua-duanya campur jadi satu."
Fondasi yang Belum Kokoh, Tapi Sudah Lompat ke Teknologi Tinggi
Jujur, cerita teman saya itu bikin saya ikut merenung. Kita hidup di zaman di mana anak-anak kita sudah akrab dengan teknologi yang canggih. Tapi di sisi lain, ada fondasi dasar yang belum kokoh: literasi. Membaca dan menulis. Dua kemampuan yang seharusnya jadi bekal utama sebelum mereka menjelajah dunia digital yang jauh lebih kompleks.
Sungguh memilukan, bukan? Di satu sisi kita bangga karena anak-anak kita melek teknologi. Tapi di sisi lain, mereka memakai teknologi itu bukan untuk belajar, melainkan untuk menutupi ketidakmampuan mereka belajar.
"Padahal," kata teman saya lagi, "AI itu kan diciptakan buat mendukung pekerjaan manusia, bukan menggantikan manusia. Sayangnya, di lapangan, AI malah sering disalahgunakan."
AI Itu Pisau Dapur
Saya manggut-manggut. "Ibaratnya AI itu kayak pisau dapur lah. Kalau dipakai buat motong sayur, bermanfaat. Kalau dipakai buat hal yang salah, ya bahaya."
"Betul banget," sahutnya. "Dan yang lebih parah, yang salah pakai bukan cuma anak-anak. Kadang orang dewasa juga. Guru, orang tua, yang seharusnya jadi teladan."
Saya tertawa kecil. "Nah, itu dia. Tapi lo nggak bisa sepenuhnya nyalahin anaknya juga, kan? Anak SD tahunya ya cari jalan pintas biar nilainya bagus. Yang harus diedukasi ya kita semua."
"Setuju."
Google Lebih Pintar, Tapi...
Obrolan kami makin dalam. Sampai teman saya bilang sesuatu yang bikin saya berhenti mengunyah gorengan.
"Lo tau nggak, kalau cuma soal transfer ilmu, Google udah jauh lebih pintar dari guru mana pun."
Saya nyengir. "Iya sih. Mau tau rumus fisika? Tinggal ketik. Mau tau sejarah kemerdekaan? Sekali klik, selesai."
"Tapi," dia menunjuk-nunjuk ke arah saya, "pendidikan itu bukan sekadar transfer ilmu, bro. Kalau cuma mentransfer ilmu, Google menang telak. Tapi kalau urusan mendidik akhlak, perilaku, dan karakter itu mustahil digantikan oleh AI."
Saya diam. Dalam hati, saya setuju seratus persen.
"Coba lo suruh AI ngajarin anak buat jujur," lanjutnya. "Atau nempelin rasa hormat ke orang tua. Bisa nggak?"
"Nggak bisa."
"Kan?" Dia tersenyum getir. "AI nggak bisa menatap mata murid dengan hangat. Nggak bisa nepuk pundak saat dia gagal. Nggak bisa jadi contoh keteladanan yang nyata. Itu wilayah manusia."
Pendidikan Itu Urusan Hati
Malam makin larut. Kopi sudah habis, gorengan sudah tandas, tapi obrolan belum selesai. Dan dari diskusi santai di warung kopi itu, ada satu benang merah yang makin jelas: pendidikan itu urusan hati. Bukan sekadar urusan data dan jawaban instan.
Karakter itu dibentuk lewat interaksi, lewat contoh, lewat sentuhan manusiawi. Mustahil digantikan oleh algoritma secanggih apa pun. Inilah yang sering kita lupakan di tengah euforia teknologi.
"Mau ke mana sih pendidikan kita?" tanya teman saya, setengah bertanya pada diri sendiri.
Saya tidak punya jawaban pasti. Tapi saya tahu satu hal: kita tidak boleh kehilangan hal paling mendasar. Literasi harus jadi prioritas. Anak yang belum bisa membaca jangan dibiarkan "bermain" AI untuk menutupi kelemahannya. Justru kita bantu dia membangun fondasinya dulu.
Pulang dengan Sebuah Renungan
Sebelum berpisah, teman saya bilang satu hal yang nempel di kepala saya sampai sekarang.
"Percuma punya AI tercanggih di dunia, kalau generasinya justru nggak bisa baca kalimat sederhana dan kehilangan akhlak mulia."
Saya mengangguk. "Yuk, mulai dari hal kecil. Ajari satu anak membaca hari ini. Tersenyum, sabar, dan hadir sebagai manusia."
"Hadir sebagai manusia," dia mengulang pelan sambil tersenyum. "Sesuatu yang nggak akan pernah bisa dilakukan AI, sehebat apa pun ia."
Saya membayar kopi, kami berjabat tangan, lalu pulang masing-masing. Di sepanjang jalan, saya masih memikirkan obrolan itu. Tentang anak-anak kita, tentang AI, tentang masa depan pendidikan. Dan tentang hal-hal sederhana yang ternyata paling menentukan.
Karena kadang, obrolan di warung kopi justru jadi tempat paling jujur untuk membicarakan hal-hal yang paling serius.
Iklan
sponsor
