Jadi begini, teman-teman.
Saya tuh selalu percaya satu hal: makin tua umur seseorang, makin banyak hal yang bisa dicontoh dari dia. Minimal, cara dia menyikapi hidup. Cara dia ngomong. Cara dia memperlakukan orang lain. Itu namanya keteladanan orang yang lebih tua. Bukan karena dia paling tua di ruangan, tapi karena karakternya matang.
Tapi belakangan, saya sering ketemu fenomena yang bikin saya pengen ngeteh sambil geleng-geleng kepala.
Ada orang yang umurnya sudah kepala empat, kepala lima, tapi isi obrolannya masih seputar:
"Eh, si A katanya....""Lo tau nggak, si B itu sebenarnya....""Jangan bilang siapa-siapa ya, tapi si C tuh...."
Saya jadi mikir: ini orang mau jadi panutan atau mau jadi portal berita breaking news yang nggak ada verifikasinya?
Yang Lebih Tua Itu Soal Isi Kepala, Bukan Soal Umur di KTP
Nggak ada yang salah dengan jadi tua. Itu kodrat. Semua orang juga akan sampai di situ, kalau umur panjang. Yang jadi masalah itu ketika umur bertambah, tapi isi kepalanya... gitu-gitu aja. Bahkan mungkin menurun.
Orang yang lebih tua yang benar itu kayak pohon besar. Orang bisa berteduh di bawahnya. Bisa belajar dari akarnya yang kuat. Bisa meniru caranya berdiri tegak walau angin kencang. Bukan pohon yang buahnya cuma ghibah, batangnya cuma fitnah, dan daunnya cuma drama.
Kalau yang diwariskan cuma cerita buruk tentang orang lain, itu bukan tanda kedewasaan, kawan. Itu kegagalan karakter. Titik.
Ghibah Itu Nggak Ada Habisnya, Tapi Nggak Ada Gunanya
Saya pernah duduk di suatu acara. Ada seorang yang umurnya paling tua di situ. Saya pikir, wah, pasti bakal dapat nasihat hidup yang dalam. Eh, yang keluar dari mulutnya:
"Lo tau nggak si X? Katanya dia begini begini...."
Saya cuma bisa senyum. Dalam hati: Pak, saya datang ke sini buat belajar, bukan buat ikutan investigasi.
Ghibah itu kayak keripik. Sekali makan, susah berhenti. Tapi habis itu, nggak ada nutrisinya. Cuma kalori kosong. Dan sayangnya, banyak orang yang sudah lebih tua malah jadi distributor utama keripik ini.
Padahal, kalau energinya dipakai buat ngajarin hal bermanfaat ngajarin skill, ngajarin cara berpikir, ngajarin sabar ,wah itu baru warisan yang nggak akan pernah basi.
Jadi, Mau Dikenang Sebagai Apa?
Saya nggak mau munafik. Kadang saya juga suka dengar cerita-cerita "seru". Tapi saya sadar, itu bukan hal yang membangun. Itu cuma hiburan murahan yang diam-diam merusak.
Jadi saya mulai tanya ke diri sendiri: kalau nanti saya tua, saya mau dikenang sebagai apa?
Sebagai orang yang bijak? Yang kalau bicara selalu menenangkan? Yang kehadirannya bikin orang merasa aman?
Atau sebagai orang yang kalau datang, orang langsung bisik-bisik: "Eh, jangan banyak cerita, nanti dighibahin."
Saya pilih yang pertama. Walaupun kadang masih harus belajar banyak. Tapi setidaknya, saya nggak mau jadi broadcast berjalan yang isinya cuma kabar buruk orang lain.
Tua Itu Kesempatan, Bukan Alasan
Umur tua itu seharusnya membawa teladan. Bukan karena kita sempurna, tapi karena kita sudah melewati banyak hal dan seharusnya belajar dari itu.
Kalau yang diwariskan cuma ghibah dan fitnah, itu bukan tanda kedewasaan. Itu kegagalan karakter. Dan itu nggak ada hubungannya dengan umur. Itu pilihan.
Jadi, mari kita pilih jadi orang yang lebih tua dengan benar. Yang kalau bicara, orang pengen dengar. Yang kalau diam, orang merasa tenang. Yang kehadirannya bukan bikin orang lain waspada, tapi bikin hati orang lain tenang.
Karena pada akhirnya, yang diingat orang bukan seberapa lama kita hidup, tapi seberapa banyak kita bikin hidup orang lain lebih baik.
Ya kan?
Iklan
sponsor