1. Data dari UNESCO: Peringkat Rendah Literasi di Dunia
Salah satu data yang sering dijadikan acuan adalah laporan dari UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization). Pada tahun 2016, Indonesia dilaporkan berada di peringkat 60 dari 61 negara dalam hal minat baca. Ini merupakan peringkat yang sangat rendah dan menunjukkan bahwa Indonesia memiliki masalah besar dalam hal literasi.
Survei ini dilakukan dengan mengukur jumlah buku yang dibaca oleh masyarakat di berbagai negara. Hasilnya, masyarakat Indonesia rata-rata hanya membaca 3-4 buku per tahun, yang jauh di bawah standar beberapa negara maju yang bisa mencapai puluhan buku per tahun.
2. Hasil Survei PISA: Tingkat Kemampuan Membaca Siswa
Selain laporan dari UNESCO, data dari Programme for International Student Assessment (PISA) juga menunjukkan bahwa kemampuan membaca siswa di Indonesia masih rendah. PISA adalah program yang diinisiasi oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk mengukur kompetensi siswa berusia 15 tahun di bidang membaca, matematika, dan sains.
Pada tahun 2018, hasil PISA menunjukkan bahwa skor literasi membaca siswa Indonesia berada di posisi 72 dari 77 negara. Ini menggambarkan bahwa selain minat baca yang rendah, kemampuan siswa dalam memahami bacaan juga belum optimal. Faktor ini menunjukkan hubungan erat antara rendahnya minat baca dengan rendahnya kemampuan membaca.
3. Survei Perpustakaan Nasional: Pola Membaca Masyarakat Indonesia
Menurut laporan dari Perpustakaan Nasional Indonesia pada tahun 2020, pola membaca masyarakat Indonesia menunjukkan peningkatan, namun tetap perlu diperhatikan. Berdasarkan survei yang dilakukan, tingkat minat baca Indonesia berada di angka 55,74 pada skala 0-100. Artinya, meski minat baca mulai membaik, tetapi masih berada di tingkat menengah.
Masyarakat Indonesia, terutama di daerah perkotaan, lebih sering mengakses informasi melalui media sosial, video, atau audio dibandingkan membaca buku secara fisik. Hal ini menunjukkan bahwa media digital mulai menggantikan fungsi bacaan tradisional sebagai sumber informasi utama.
4. Faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Minat Baca
Beberapa faktor utama yang mempengaruhi rendahnya minat baca di Indonesia adalah:
- Kurangnya Akses ke Buku Berkualitas: Di beberapa daerah, terutama di wilayah pedalaman, akses ke buku bacaan yang berkualitas sangat terbatas. Minimnya perpustakaan dan toko buku menjadi kendala bagi masyarakat.
- Kultur Membaca yang Belum Kuat: Budaya membaca belum menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari masyarakat Indonesia. Banyak masyarakat lebih memilih hiburan visual seperti televisi atau media sosial dibandingkan membaca buku.
- Pengaruh Teknologi Digital: Kemajuan teknologi dan internet juga berperan besar dalam menggeser pola konsumsi informasi. Banyak orang lebih memilih membaca artikel pendek atau menonton video daripada membaca buku yang membutuhkan konsentrasi lebih.
5. Langkah Peningkatan Minat Baca
Meskipun data menunjukkan rendahnya minat baca, upaya untuk meningkatkan literasi di Indonesia terus dilakukan. Beberapa program pemerintah, seperti Gerakan Literasi Nasional dan Gerakan Literasi Sekolah, bertujuan untuk menumbuhkan budaya membaca di kalangan siswa dan masyarakat umum.
Selain itu, inisiatif dari komunitas seperti Rumah Baca dan Taman Baca Masyarakat di berbagai daerah juga berperan penting dalam meningkatkan akses dan minat baca masyarakat.
Kesimpulan
Data dari UNESCO, PISA, dan survei Perpustakaan Nasional Indonesia menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih relatif rendah dibandingkan negara-negara lain. Berbagai faktor seperti kurangnya akses buku, budaya membaca yang belum kuat, dan pengaruh teknologi digital turut mempengaruhi rendahnya minat baca. Namun, dengan upaya kolektif dari pemerintah, sekolah, dan masyarakat, harapannya minat baca di Indonesia dapat terus meningkat, terutama di era digital ini.
Iklan
sponsor
