Cangkir kopi bersama teman

warung kopi yang sudah lama tak kukunjungi.
Please wait 0 seconds...
Scroll Down and click on Go to Link for destination
Congrats! Link is Generated

Malam itu, langit kelabu menggantung rendah di atas kota. Sebentuk hujan rintik mulai turun, menyiram mulai dari trotoar hingga tanaman, dan daun mulai bergerak perlahan ditiup angin. Aku terinjak di atas trotoar basah, berjalan ke warung kopi yang tidak pernah menyinggung sebelumnya. Di sudutnya yang sama, sahabat lamaku sudah ada di sana, sama persis senyumnya yang selalu. 


Warung kopi ini dulu adalah tempat yang sama sekali berbeda bagi kami. Di sudut yang sama di mana kami biasa duduk, duduk selama berjam-jam cerita, tawa, dan sesekali malam bercurah hati. Sekarang, aroma kopi yang hangat dan bunyi hujan yang berderit menambah tambahan yang cukup menyenangkan. Saat itu, aku dan sahabatku duduk di sebelah, memesan dua cangkir kopi hitam.

“Tak terasa ya, sudah berapa tahun?” ucapku sambil memandangi cangkir kopi yang mengepul di hadapanku. Ia hanya tersenyum, menghirup kopinya pelan-pelan, seperti sedang menikmati setiap detik pertemuan ini. “Waktu cepat sekali berlalu, tapi warung ini masih tetap sama,” balasnya, matanya menerawang keluar jendela, menatap titik-titik air yang jatuh.

Percakapan mengalir dengan lancar, seperti hujan yang tak berhenti. Kami membahas masa lalu, cerita-cerita lama yang dulu terasa besar namun kini hanya menjadi kenangan lucu. Dari obrolan sekolah yang selalu terburu-buru, hingga petualangan kecil yang kami lalui bersama. Setiap tawa dan senyuman membawa kami kembali ke masa muda, seakan waktu tak pernah benar-benar memisahkan.

Hujan semakin deras, namun hangatnya persahabatan di warung kopi ini membuatnya tak terasa dingin. Di bawah naungan atap seng yang berderak tertimpa air, suara hujan menjadi melodi pengiring cerita yang tak berujung. Cangkir kopi kami mungkin akan habis, tapi pertemuan ini adalah awal dari banyak lagi yang akan datang.

“Ayo, kita buat janji lagi untuk bertemu di sini,” kataku, sambil tersenyum. Ia mengangguk setuju, dan kami tahu, meskipun waktu terus berjalan, di sudut warung kopi ini, kami selalu bisa kembali.

Iklan

sponsor

Posting Komentar

Subscribe

Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.