Malam itu, langit kelabu menggantung rendah di atas kota. Sebentuk hujan
rintik mulai turun, menyiram mulai dari trotoar hingga tanaman, dan daun mulai
bergerak perlahan ditiup angin. Aku terinjak di atas trotoar basah, berjalan ke
warung kopi yang tidak pernah menyinggung sebelumnya. Di sudutnya yang sama,
sahabat lamaku sudah ada di sana, sama persis senyumnya yang selalu.
“Tak terasa ya, sudah berapa tahun?” ucapku sambil memandangi cangkir kopi
yang mengepul di hadapanku. Ia hanya tersenyum, menghirup kopinya pelan-pelan,
seperti sedang menikmati setiap detik pertemuan ini. “Waktu cepat sekali
berlalu, tapi warung ini masih tetap sama,” balasnya, matanya menerawang keluar
jendela, menatap titik-titik air yang jatuh.
Percakapan mengalir dengan lancar, seperti hujan yang tak berhenti. Kami
membahas masa lalu, cerita-cerita lama yang dulu terasa besar namun kini hanya
menjadi kenangan lucu. Dari obrolan sekolah yang selalu terburu-buru, hingga
petualangan kecil yang kami lalui bersama. Setiap tawa dan senyuman membawa
kami kembali ke masa muda, seakan waktu tak pernah benar-benar memisahkan.
Hujan semakin deras, namun hangatnya persahabatan di warung kopi ini
membuatnya tak terasa dingin. Di bawah naungan atap seng yang berderak tertimpa
air, suara hujan menjadi melodi pengiring cerita yang tak berujung. Cangkir
kopi kami mungkin akan habis, tapi pertemuan ini adalah awal dari banyak lagi
yang akan datang.
“Ayo, kita buat janji lagi untuk bertemu di sini,” kataku, sambil tersenyum.
Ia mengangguk setuju, dan kami tahu, meskipun waktu terus berjalan, di sudut
warung kopi ini, kami selalu bisa kembali.
Iklan
sponsor