Setelah lulus, aku merasa cukup berbekal ilmu, siap melangkah ke dunia baru yang menanti. Keyakinan bahwa semua sudah kumiliki membuatku lalai. Buku-buku mulai terabaikan, tertutup oleh anggapan bahwa membaca hanya milik siswa, sebuah ilusi yang bersembunyi dalam ego.
“Gue bisa,” pikirku, “mengajar diri sendiri.” Aku percaya pengalaman dan pemikiran cukup sebagai peta. Tapi ternyata, jalan itu gelap. Tanpa peta dan bintang penunjuk arah, aku tersesat, jatuh ke jurang keheningan. Mimpi dan cita-cita tampak jauh, tak terjangkau, karena aku meninggalkan harta yang berharga: buku.
Buku adalah jendela, bukan hanya ke dunia yang lebih luas, tapi juga ke dalam jiwa. Lalu, apa bedanya dengan media sosial? Media sosial memang menghibur, tapi hanya sekejap, seperti riuh suara yang hilang dalam kebisingan. Sementara buku mengajak kita berpikir dalam, menemukan makna, dan meresapi setiap kata dengan tenang.
Buku mengajarkan ketulusan. Dalam setiap kalimat, ada karakter yang mendalam, ada cerita yang memantik renungan. Aku akhirnya sadar, membaca bukan sekadar tugas masa lalu, tetapi perjalanan yang tak pernah berakhir.
Kehidupan setelah kuliah adalah bab baru yang perlu kita tulis. Dan untuk menulisnya, kita membutuhkan tinta pengetahuan dan inspirasi yang hanya bisa ditemukan dalam buku. Teruslah membaca, karena perjalananmu baru saja dimulai.
Iklan
sponsor
