Ketika seseorang berbuat salah kepada kita, ada dua hal yang bisa kita lakukan: menyimpan dendam atau memaafkan. Dendam hanya akan membebani hati dan membuat kita terus terjebak dalam lingkaran negatif. Namun, apakah dengan memaafkan semuanya selesai begitu saja? Sayangnya, tidak selalu demikian.
Setiap masalah yang pernah terjadi ibarat bumerang. Kita mungkin merasa sudah melemparkannya jauh, tetapi jika tidak berhati-hati, ia bisa kembali menghantam kita dengan lebih keras. Itulah mengapa mengingat kesalahan—bukan untuk menyimpan dendam, tetapi untuk belajar adalah langkah yang penting.
Misalnya, dalam hubungan pertemanan atau pekerjaan, jika kita pernah dikhianati atau disakiti, wajar untuk memberi kesempatan kedua. Tapi bukan berarti kita harus melupakan apa yang terjadi. Mengingat pelajaran dari pengalaman itu dapat membantu kita lebih berhati-hati di masa depan agar tidak jatuh ke dalam lubang yang sama.
Memaafkan adalah tanda kebesaran hati, tapi tidak melupakan adalah bentuk perlindungan diri. Kita tidak ingin hidup dipenuhi rasa curiga, tetapi kita juga tidak boleh terlalu naif. Jadi, jika ada luka di masa lalu, jangan biarkan ia menghambat langkah kita ke depan. Biarkan ia menjadi pengingat, bukan penghalang.
Karena pada akhirnya, hidup ini bukan hanya tentang memberi maaf, tetapi juga belajar dari kesalahan baik yang kita buat sendiri maupun yang dilakukan orang lain terhadap kita.
Iklan
sponsor
