“(Setiap perbuatan yang didasari niat ikhlas akan bernilai ibadah)”
Ikhlas adalah menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya tujuan dalam segala bentuk ketaatan atau mengabaikan pandangan makhluk dengan cara selalu berkonsentrasi kepada Al Khaliq (Allah SWT).
Mengapa setiap perbuatan harus ikhlas? Karena ikhlas merupakan salah satu syarat untuk diterimanya ibadah.
Landasan niat yang ikhlas adalah memurnikan niat ikhlas karena Allah SWT semata. Misal : orang yang jiwanya terkalahkan oleh perkara duniawi untuk mencari popularitas, dalam ibadah seperti sholat, puasa, menuntut ilmu, berdakwah dll.
Mengapa sulit mewujudkan ikhlas? Memang bukan pekerjaan mudah untuk mewujudkan ikhlas. Maka, Rasulullah saw dalam doanya sering mohon agar hatinya terus dijaga dalam kebaikan:
يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ
“Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR.Tirmidzi, No. 3522)
Berkenaan dengan larangan mensekutukan Allah SWT, dalam hadis Qudsi, Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw:
قالَ اللَّهُ تَبارَكَ وتَعالَى: أنا أغْنَى الشُّرَكاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَن عَمِلَ عَمَلًا أشْرَكَ فيه مَعِي غيرِي، تَرَكْتُهُ وشِرْكَهُ
“Allah berfirman: “Aku adalah yang paling tidak membutuhkan sekutu. Maka siapa yang beramal lalu dia mempersekutukan Aku dengan yang lain dalam amalan tersebut, Aku tinggalkan dia bersama sekutunya.” (HR. Muslim No. 2985)
Dalam hadits ini Rasulullah menginformasikan bahwasanya Allah Swt berfirman, “Allah tidak butuh kepada sekutu, Allah Maha Kaya terhadap makhluk-makhluk-Nya. Tiga statement berkaitan dengan narasi bahwa Allah SWT tidak butuh sekutu:
Satu, kalau ada orang beramal ketaatan karena Allah dan karena selain-Nya, maka Allah akan meninggalkannya.
Dua, kalau ada orang yang melakukan shalat karena Allah dan karena manusia, maka Allah tidak menerima shalatnya, karena memang Allah tidak butuh sekutu.
Tiga, kalau ada orang beramal dan dia membagikan niat dari amalnya untuk Allah dan selain-Nya, maka Allah tidak akan menerimanya. Dalam arti ibadah yang disertai dengan Riya Allah tidak akan menerimanya. Sesuai dengan firman Allah SWT:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ٱلَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yaitu orang-orang yang berbuat riya.” (QS. Al-Ma’un: 4-6)
Jadi segala jenis ketaatan, ibadah serta amal saleh yang disertai dengan riya maka pelakunya tergolong sebagai orang yang celaka, amalnya tidak diterima, karena Allah tidak butuh sekutu di sisi-Nya.
Iklan
sponsor
