Unggul: Label atau Realitas?
Kita sering mendengar bahwa seseorang atau suatu institusi itu “unggul” atau “hebat”. Namun, apakah istilah tersebut sudah kehilangan maknanya? Secara budaya, seharusnya keunggulan diakui oleh orang lain, bukan sekadar dinyatakan sendiri-sendiri. Misalnya:
- Kecantikan: Anda boleh cantik, tetapi sebaiknya pengakuan akan kecantikan datang dari apresiasi orang lain, bukan sekadar pernyataan “saya cantik”.
- Kehebatan: Anda boleh jadi hebat, namun kehebatan yang sebenarnya akan diakui melalui pengamatan dan penilaian dari lingkungan sekitar.
Begitu pula dalam pendidikan. Jika sebuah sekolah mendirikan institusinya lalu dengan serta-merta menyebut dirinya “sekolah unggul”, hal itu lebih menyerupai strategi pemasaran daripada sebuah upaya mendidik secara substansial. Pendidikan seharusnya bukan tentang mengejar label atau pencitraan, melainkan tentang mengungkap dan mengembangkan fadilah atau kelebihan unik dari setiap individu.
Pendidikan dan Kapitalisme Institusional
Di era sekarang, kita melihat bahwa banyak lembaga pendidikan mulai terseret oleh arus kapitalisme. Persaingan untuk menarik lebih banyak murid atau santri kadang-kadang membuat fokus utama beralih dari kualitas pendidikan ke strategi pemasaran. Akibatnya, mekanisme pendeteksian dan pengembangan potensi setiap murid menjadi semakin sempit dan terbatas. Semakin banyaknya murid yang didaftarkan, terkadang kualitas pendidikan dan pendeteksian keunikan tiap individu semakin terkikis.
Analogi Sederhana: Kambing dan Gajah
Analoginya sederhana: seekor kambing memiliki ukuran dan karakteristiknya masing-masing, begitu pula dengan seekor gajah. Tidak adil jika kita mengatakan bahwa gajah lebih hebat dari kambing hanya karena ukurannya yang lebih besar. Setiap makhluk memiliki fadilah atau kelebihan yang berbeda-beda. Sama seperti itu, setiap individu memiliki potensi yang unik dan tidak ada satu standar “unggul” yang bisa diterapkan secara universal.
Pendidikan: Mencari Fadilah, Bukan Dagang Label
Menurut saya, pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang membantu setiap anak menemukan fadilah atau kelebihan pribadinya. Pendidikan seharusnya menjadi wahana untuk:
- Mendeteksi dan Mengasah Potensi: Guru dan pendidik harus mampu mengenali dan mengembangkan potensi unik yang dimiliki oleh masing-masing murid.
- Memberi Manfaat Nyata: Hasil pendidikan bukanlah sekadar pencapaian akademis atau pencitraan lembaga, melainkan bagaimana lulusan dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan sejarah rahmatan lil alamin.
- Menghindari Supermasi: Meskipun unsur komersialisasi dalam pendidikan (seperti fasilitas, infrastruktur, dan biaya) memang ada, pendidikan tidak boleh berubah menjadi “supermasi” yang mengutamakan keuntungan semata. Pendidikan harus tetap berfokus pada pengembangan manusia secara utuh, bukan hanya pada perhitungan untung-rugi.
Pendidikan bukanlah ajang untuk memasarkan label “unggul” atau “super” yang sebenarnya tidak mencerminkan realitas manusia. Sebaliknya, pendidikan sejati adalah tentang menemukan dan mengembangkan fadilah masing-masing individu sehingga mereka dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat. Mari kita bersama-sama mempertimbangkan kembali nilai-nilai pendidikan, agar tidak terjebak dalam logika perdagangan, tetapi tetap menjadi proses pembentukan karakter dan potensi yang berharga untuk kehidupan bermasyarakat.
Iklan
sponsor
