Balik Gerimis Malam

Kisah di Balik Gerimis Malam
Please wait 0 seconds...
Scroll Down and click on Go to Link for destination
Congrats! Link is Generated


Malam tadi, sekitar pukul sebelas, di tengah gerimis dan dinginnya malam, aku dan temanku kembali ke masjid. Temanku menyadari bahwa HP-nya tertinggal di kamar masjid, sehingga kami harus kembali untuk mengambilnya.

Saat mendekati teras masjid, samar-samar terdengar suara tangis tertahan. Aku melihat seseorang sedang berdoa dengan penuh khusyuk sambil memangku anaknya yang tertidur lelap dalam dinginnya malam. Ketika kami mendekat, ternyata orang itu adalah Fulan, seorang tukang ojek yang terkenal ramah dan baik hati. Ia mengontrak di dekat masjid.

Fulan tampak terkejut melihat kehadiran kami. "Eh, Mas E," sapanya, sambil buru-buru mengusap air matanya. Wajahnya terlihat sayu dan penuh kesedihan, seakan ada beban berat yang ia tahan.

Aku bertanya, "Malam-malam begini, kenapa membawa si kecil, Mas?"

Ia tersenyum lemah, mengulurkan tangan untuk bersalaman, dan menjawab, "Tidak apa-apa, Mas E."

Namun, firasatku mengatakan ada sesuatu yang mengganjal. Aku kembali bertanya dengan lembut, "Sudahlah, Mas. Tidak usah sungkan. Ada yang bisa saya bantu?"

Fulan menundukkan kepala. Kali ini suaranya terdengar lebih lemah dan serak. "Tidak apa-apa, Mas E," katanya, berusaha menahan tangis.

Aku semakin merasa harus mendesaknya. "Ayolah, Mas. Anggap saja saya saudaramu. Bisa jadi ada hikmah di balik HP teman saya yang tertinggal, sehingga kita bisa bertemu di sini. Mungkin Allah menginginkan sesuatu dari pertemuan ini."

Fulan mengangkat kepalanya perlahan, menatapku dengan mata yang berlinang. Dengan suara bergetar, ia berkata, "Dari kemarin saya belum makan, Mas E. Anak dan istri saya tadi hanya makan sepiring lontong yang dibagi bertiga. Saya sudah berusaha, tapi saya malu harus meminjam lagi. Orderan ojek sepi, dan motor saya pun sudah kehabisan bensin."

Aku tercekat. Air mataku mulai berlinang. Temanku yang berdiri di sebelahku pun menunduk, menahan tangis. Kata-katanya menamparku begitu keras. Ia belum makan sejak pagi, sementara aku di rumah justru membuang sisa lontong yang basi. Betapa perbedaan nasib begitu nyata di hadapanku.

Fulan melanjutkan, "Saya berpikir, mungkin dengan datang ke masjid yang penuh berkah ini, sebagai tamu Allah, sambil membawa anak, doa saya akan lebih makbul. Saya berharap ada rezeki dari Allah untuk kami makan malam. Saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi, Mas E."

Ia menundukkan kepala, menghapus air mata yang terus mengalir. Suaranya semakin terisak.

Temanku, yang juga pengurus masjid, tiba-tiba berkata dengan suara berat, "Saya merasa sangat bersalah. Saya malu kepada Allah. Di saat kami sebagai pengurus masjid sibuk merencanakan pembangunan ini dan itu, program ini dan itu, ada warga di sekitar kita yang kelaparan. Di saat kami ingin mengganti warna cat masjid, ada bayi yang tidak bisa menyusu karena ibunya kehabisan ASI. Di saat kami memiliki simpanan kas ratusan juta, ada saudara kita yang tidur dalam gelap dan dinginnya malam tanpa kepastian esok hari."

Kami terdiam dalam keheningan yang menggigit. Hati kami terasa dihantam kenyataan yang begitu pahit.

Saudara sekalian, semoga kisah ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua. Mulai saat ini, mari lebih peduli terhadap lingkungan sekitar kita. Bisa jadi, di antara rezeki yang kita miliki, ada bagian yang Allah titipkan untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan. Jangan sampai kita lalai dalam berbagi, karena di sekitar kita, mungkin ada yang sedang menahan lapar dengan harapan ada uluran tangan dari sesama.

Iklan

sponsor

Posting Komentar

Subscribe

Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.