Cerita dompet yang hilang

Dampak Penghuni terakhir yang tersindir
Please wait 0 seconds...
Scroll Down and click on Go to Link for destination
Congrats! Link is Generated


Malam itu, hujan turun tanpa henti. Langit gelap pekat, seolah tak ingin memberi kesempatan bagi bintang untuk bersinar. Aku menginap di rumah seorang teman, menghabiskan malam dengan secangkir kopi hangat dan obrolan ringan tentang bisnis kecil yang sedang kami rintis. Rumahnya terasa sepi, hanya ada kami berdua. Suasana yang tenang membuat pembicaraan semakin mendalam.

Pagi harinya, sebagai seorang tamu, aku mendapatkan suguhan sarapan. Sebuah keramahan yang membuatku merasa dihargai. Hujan masih belum reda saat aku berpamitan. Dengan sedikit enggan, aku melangkah keluar, menembus gerimis yang masih turun. Sesampainya di rumah, aku beristirahat sejenak, menikmati hawa sejuk sisa hujan.

Namun, siang harinya, telepon berdering. Temanku di seberang sana, suaranya terdengar panik. "Dompetku hilang," katanya. Sejak pagi ia mencari, tetapi tidak juga menemukannya. Aku mendengarkan dengan sabar, mencoba membantu dengan saran, "Coba cari lagi, mungkin terakhir kamu taruh di tempat yang tidak biasa."

Namun, pembicaraan itu mengarah pada sesuatu yang tidak mengenakkan. Dengan nada yang tidak langsung, ia seperti menyindirku sebagai orang terakhir yang mungkin mengetahui keberadaan dompetnya. Aku berusaha menjelaskan bahwa aku sama sekali tidak tahu bentuk atau isi dompet tersebut, apalagi menyentuhnya. Aku tetap meminta dia untuk mencarinya lagi, barangkali ada di kamar atau tempat lain yang luput dari perhatian.

Waktu berlalu, malam tiba, dan dompet itu masih belum ditemukan. Situasi semakin mengarah kepadaku, seolah aku menjadi satu-satunya tersangka. Aku terus mengelak karena memang tidak tahu apa-apa. Perasaan tak nyaman mulai menyelimuti, ada ketidakpercayaan yang muncul dari seorang teman yang selama ini kuanggap baik.

Dua hari kemudian, sebuah pesan singkat masuk. Dompetnya telah ditemukan. Ternyata, ia meletakkannya di atas rak dapur saat setelah membeli mie instan dan hendak memasak. Kondisinya masih utuh, tak ada yang hilang atau berkurang.

Aku membaca pesan itu dengan perasaan campur aduk. Bukan karena lega dompetnya sudah ditemukan, tetapi lebih karena luka kecil yang terlanjur tertanam. Aku tidak membalas pesan itu. Aku merasa sudah kehilangan kepercayaan yang sebelumnya ada.

Sejak kejadian itu, komunikasi kami terputus. Tidak ada lagi sapaan atau sekadar menanyakan kabar. Aku tahu, dia tidak pernah secara langsung menuduhku, tetapi sindiran halus dan prasangka itu cukup untuk membuatku enggan kembali ke rumahnya. Itulah alasan mengapa kini aku lebih memilih pulang, walau hujan deras sekalipun. Aku tak ingin lagi menghadapi situasi serupa, di mana kepercayaan bisa runtuh hanya karena satu dugaan tanpa bukti yang jelas.

Iklan

sponsor

Posting Komentar

Subscribe

Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.