Saya masih ingat jelas, foto-foto yang saya ambil kala itu menunjukkan wajah-wajah ceria mereka. Status mereka pun beragam, ada yang masih sekolah, ada juga yang sudah mahasiswa. Meski terkadang ada kesulitan dalam operasional kegiatan, mereka tetap sportif dan saling mendukung agar acara keagamaan di masjid bisa berjalan dengan lancar. Loyalitas mereka terasa kuat, mereka mau bekerja bersama tanpa banyak keluhan.
Namun, keadaan kini terasa berbeda. Secara operasional, mungkin lebih mudah banyak fasilitas yang memudahkan tetapi justru keterlibatan para remaja semakin berkurang. Mereka lebih memilih menepi, tidak lagi seantusias dulu. Entah karena kesibukan, perubahan gaya hidup, atau pengaruh era digital yang semakin mendominasi.
Dampaknya tentu terasa. Bukan sekadar soal operasional, tetapi juga tentang keberlangsungan semangat kebersamaan itu sendiri. Jika dulu sulit dalam urusan teknis tetapi remaja selalu siap membantu, kini saat segala sesuatu lebih mudah, justru yang sulit adalah menemukan remaja yang benar-benar mau berkontribusi.
Konsep loyalitas dan kebersamaan yang dulu menarik kini terasa memudar. Mungkin ini hanya fase, atau mungkin ada sesuatu yang perlu kita pahami dan perbaiki bersama. Yang jelas, masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga tempat membangun kebersamaan. Dan remaja adalah bagian penting dari itu.
Semoga masih ada cara untuk mengembalikan semangat itu agar masjid kembali menjadi rumah yang hidup bagi para remaja, bukan sekadar bangunan yang mereka lewati tanpa singgah.
Bagaimana menurut Anda? Apakah ada yang ingin ditambahkan atau disesuaikan? 😊
Iklan
sponsor