Aku, tipe pria pendiam dan masa bodoh soal omongan orang. Istriku sebaliknya ceplas-ceplos, grusa-grusu, dan sangat perasa. Sedikit saja komentar miring dari tetangga bisa bikin dia menangis berjam-jam. Dan aku? Hanya bisa diam, membiarkannya larut dalam kesedihannya.
Di awal-awal pernikahan, dia sering minta dibelikan baju, perabot. Bukan karena boros, tapi karena omongan tetangga rumah kami katanya kosong, tak berisi, padahal sudah punya tempat tinggal sendiri. Tapi aku selalu menolak.
Bagiku, mendengar ocehan orang itu tak penting. Dan karena aku yang pegang semua uang, aku hanya mau mengeluarkan uang untuk hal yang aku anggap penting. “Kalau bukan kebutuhan pokok, jangan hambur-hamburkan,” itu prinsipku.
Dan karena prinsip itulah… aku kehilangan istriku.
Bukan, dia tidak pergi. Tidak juga meninggal. Tapi aku kehilangan sosoknya yang dulu: ramai, cerewet, penuh tawa. Semua hilang sejak satu kejadian kecil yang ternyata menyisakan luka besar...
Lebaran di tahun kesepuluh pernikahan kami, aku mengajaknya ke pasar. Aku dan anak kami sudah dapat baju. Tapi istriku belum juga menemukan yang dia suka. Hingga akhirnya dia bilang, pelan sekali, “Aku cuma pengin gamis levis, Mas… dari dulu aku pengin punya baju itu.”
Kami cari, ketemu. Harganya? Tiga ratus ribu. Aku kaget. Dalam benakku, uang segitu bisa beli dua atau tiga pasang baju lainnya. Aku tolak.
Dalam perjalanan pulang, kulihat lewat kaca spion... wajahnya sudah basah oleh air mata. Ada rasa sesal dalam diriku. Tapi ya sudah. Terlanjur. Aku pikir nanti akan kuberikan saja uangnya supaya dia bisa beli sendiri. Tapi beberapa hari kemudian, saat aku coba memberikannya, dia menolak. Bahkan saat lebaran tiba, dia tidak membeli baju baru sama sekali.
Dan sejak hari itu... istriku berubah.
Satu tahun berlalu.
Dia masih di rumah, masih menjalankan semua tugas sebagai istri dan ibu. Tapi tanpa suara. Tanpa keluhan. Tanpa tawa. Tanpa senyum. Seolah jiwanya pergi dan hanya raganya yang tersisa.
Aku pernah coba memberinya uang lebih, untuk beli apa pun yang dia mau. Tapi pulang dari kerja, kutemukan uang itu sudah kembali ke lemariku. Utuh. Tanpa sepatah kata pun.
Dan hari ini... saat dia pergi ke sekolah anak kami untuk rapat wali murid, hatiku hancur.
Dia mengenakan baju pudar yang sudah lama. Rok hitam yang sudah dia pakai sejak masih gadis. Sandal jepit tipis, bagian pinggirnya sobek-sobek. Wajahnya pucat, tubuhnya kurus.
Saat hujan sore itu turun, aku buru-buru mengangkat jemuran. Tanganku tertusuk peniti. Ternyata dari bra istriku. Peniti, di pakaian dalamnya. Semua bajunya tampak pudar, beberapa bahkan berbintik hitam. Mungkin karena terlalu sering dicuci-kering pakai tanpa diganti.
Dan semua bajuku? Rapi. Bersih. Tak ada satu pun yang rusak.
Hatiku benar-benar sakit. Terlambat.
Malamnya, dia pulang membawa tabungan Rp20 juta. Ditaruhnya di meja. Aku tanya uang dari mana.
Air matanya menetes. Dan aku... hanya bisa diam. Terluka oleh kesalahanku sendiri.
Buat para suami...
Istri bukan pembantu. Bukan robot. Bukan pengemis.
Dia rela meninggalkan orang tuanya, dunianya, demi ikut hidup bersamamu. Jangan sampai dia kehilangan dirinya hanya karena kamu terlalu pelit memberi perhatian, kasih sayang, dan... selembar baju.
Jangan sampai kamu menyesal... saat rumah masih utuh, tapi yang kamu miliki hanyalah jasad istrimu. Sedangkan jiwanya sudah mati perlahan, karena kamu yang mematikannya sendiri.
Iklan
sponsor
