Berguru pada Mbah Mislan

Rahasia Umur Panjang: Berguru pada Mbah Mislan
Please wait 0 seconds...
Scroll Down and click on Go to Link for destination
Congrats! Link is Generated


Kisah tahun 2016 yang lalu Usai mengikuti kegiatan literasi di Sekolah Literasi Ponorogo, saya dan beberapa sahabat menyempatkan diri untuk bersilaturahmi ke rumah seorang sosok sepuh yang penuh kebijaksanaan  Mbah Mislan.

Pertemuan itu terjadi pada malam hari, tepatnya tanggal 31 Oktober 2016 sekitar pukul 20.20. Di tengah suasana yang tenang, kami berbincang ringan, namun penuh makna. Saya, yang sejak awal penasaran dengan rahasia panjang umur beliau, memberanikan diri bertanya:

"Menopo resepipun, Mbah?"
(Apa resepnya, Mbah?)

Dengan santai dan tulus, beliau menjawab:

"Temen, jujur, lan disiplin."
(Tulus, jujur, dan disiplin.)

Jawaban yang sederhana, tapi dalam. Tak lama kemudian, beliau menyuguhkan enam gelas minuman. Ajaibnya, kami yang datang memang berenam. Sungguh terasa seperti ada harmoni batin yang menyambut kami sejak awal.

Kami sempat mencari istri beliau, namun ternyata sedang tidur. Anak-anak dan cucunya juga sedang keluar rumah. Namun, meski hanya kami dan Mbah Mislan, kami merasa seperti sedang mengikuti pelajaran hidup yang sangat berharga.

Dalam obrolan itu, saya baru tahu bahwa Mbah Mislan memiliki enam orang anak, dan semua anaknya kini telah “jadi”: bekerja sebagai guru dan juga pegawai di dinas pendidikan. Mendengarnya, hati saya bergetar. Indah sekali, batin saya berkata. Pendidikan dan nilai-nilai hidup yang beliau wariskan benar-benar membuahkan hasil yang luar biasa.

Saya juga teringat, beliau adalah mantan perangkat desa di Tegalsari. Rumah peninggalan beliau  atau biasa disebut keprabon  masih berdiri di sana dan rencananya akan direhabilitasi untuk ditempati oleh salah satu putranya. Begitu terasa kuatnya akar budaya dan kekeluargaan di sana.

Menariknya, Mbah Mislan tetap rutin melakukan kontrol kesehatan setiap bulan. “Wong tuwo,” katanya  karena beliau menyadari pentingnya menjaga kondisi di usia senja. Apalagi, beliau pernah mengalami tiga kali kecelakaan ditabrak orang, namun tetap diberi keselamatan. Subhanallah, alhamdulillah, hingga kini beliau masih sehat, segar, dan penuh semangat. Tak terasa, usia beliau kini menjelang satu abad  hampir 100 tahun!

Pertemuan malam itu terasa seperti mendapat wejangan budaya sekaligus pelajaran hidup yang mendalam. Bukan hanya tentang umur panjang, tapi juga tentang nilai-nilai hidup sederhana yang sering kita abaikan: ketulusan, kejujuran, dan kedisiplinan.

Terima kasih, Mbah Mislan. Semoga Allah senantiasa menjaga dan memberkahi sisa usia panjenengan.

Iklan

sponsor

Posting Komentar

Subscribe

Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.