Pertemuan itu terjadi pada malam hari, tepatnya tanggal 31 Oktober 2016 sekitar pukul 20.20. Di tengah suasana yang tenang, kami berbincang ringan, namun penuh makna. Saya, yang sejak awal penasaran dengan rahasia panjang umur beliau, memberanikan diri bertanya:
"Menopo resepipun, Mbah?"(Apa resepnya, Mbah?)
Dengan santai dan tulus, beliau menjawab:
"Temen, jujur, lan disiplin."(Tulus, jujur, dan disiplin.)
Jawaban yang sederhana, tapi dalam. Tak lama kemudian, beliau menyuguhkan enam gelas minuman. Ajaibnya, kami yang datang memang berenam. Sungguh terasa seperti ada harmoni batin yang menyambut kami sejak awal.
Kami sempat mencari istri beliau, namun ternyata sedang tidur. Anak-anak dan cucunya juga sedang keluar rumah. Namun, meski hanya kami dan Mbah Mislan, kami merasa seperti sedang mengikuti pelajaran hidup yang sangat berharga.
Dalam obrolan itu, saya baru tahu bahwa Mbah Mislan memiliki enam orang anak, dan semua anaknya kini telah “jadi”: bekerja sebagai guru dan juga pegawai di dinas pendidikan. Mendengarnya, hati saya bergetar. Indah sekali, batin saya berkata. Pendidikan dan nilai-nilai hidup yang beliau wariskan benar-benar membuahkan hasil yang luar biasa.
Saya juga teringat, beliau adalah mantan perangkat desa di Tegalsari. Rumah peninggalan beliau atau biasa disebut keprabon masih berdiri di sana dan rencananya akan direhabilitasi untuk ditempati oleh salah satu putranya. Begitu terasa kuatnya akar budaya dan kekeluargaan di sana.
Menariknya, Mbah Mislan tetap rutin melakukan kontrol kesehatan setiap bulan. “Wong tuwo,” katanya karena beliau menyadari pentingnya menjaga kondisi di usia senja. Apalagi, beliau pernah mengalami tiga kali kecelakaan ditabrak orang, namun tetap diberi keselamatan. Subhanallah, alhamdulillah, hingga kini beliau masih sehat, segar, dan penuh semangat. Tak terasa, usia beliau kini menjelang satu abad hampir 100 tahun!
Pertemuan malam itu terasa seperti mendapat wejangan budaya sekaligus pelajaran hidup yang mendalam. Bukan hanya tentang umur panjang, tapi juga tentang nilai-nilai hidup sederhana yang sering kita abaikan: ketulusan, kejujuran, dan kedisiplinan.
Terima kasih, Mbah Mislan. Semoga Allah senantiasa menjaga dan memberkahi sisa usia panjenengan.
Iklan
sponsor
